Rabu, 10 Februari 2016



Masalah Sosial di Lingkup Terkecil(pedesaan)
KEMISKINAN DAN PERMASALAHAN DI PEDESAAN

1.      A.    Pendahuluan
Masyarakat kita sebagain besar tinggal didaerah pedesaan, dan sebagian besar penduduknya hidup dalam kemiskinan. Penyebab kemiskinan masyarakat desa yaitu : Keisolasian wilayah, kekurangan sumber daya alam dan rusaknya lingkungan sekitarnya. Berdasarkan angka kemiskinan Kalimantan Barat tahun 2009 mencapai 9,3 % atau secara nasional menempati urutan ke 17. Provinsi Kalimantan Barat memiliki 1.955 Desa/Kota dan 924 Desa/kelurahan termasuk kategori miskin, Tiga Kabupaten terbanyak yang memiliki desa miskin yaitu Kabupaten Sanggau 103 Desa/Kelurahan, Kabupaten Sambas  84 Desa/Kelurahan dan Kabupaten Bengkayang 80 Desa/Kelurahan merupakan daerah perbatatasan dengan Negara tetangga Malaysia. Untuk tahun 2010 penduduk Kalimantan Barat Berjumlah 4.393.239 jiwa dengan penduduk miskin berjumlah 428.759 jiwa atau 9,0% atau terjadi penurunan apabila dibandingkan dengan tahun  2009.
Sebagai Darerah yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga Malaysia, kemiskinan di Kalimantan Barat terlihat sangat kontras sekali, dimana Negara Malaysia terlihat lebih makmur dan maju, sedangkan di Kalimantan Barat terlihat sangat miskin, sehingga bisa mengganggu kestabilan berbangsa dan bernegara. Sebagai contoh di Perbatasan Kabupaten Sintang mereka ada yang mengibarkan bendera Malaysia saat peringatan hari kemerdekaan kita. Apa bila kemiskinan ini dibiarkan maka bukan hal yang tidak mungkin suatu saat akan membelot kenegara lain.
Berbicara kemiskinan di Kalimantan Barat tidak terlepas dari harkat dan martabat bangsa ini sendiri, karena di beberapa daerah Kalimantan Barat berbatasan langsung dengan Negara tetangga, ada yang berkeinginan bergabung dengan Negara tetangga, karena Negara tetangga jauh lebih sejahtera dari pada Negara kita yang bisa mengancam dis integrasi bangsa, disamping miskin juga sangat terbatas akses transportasi, pendidikan dan kesehatan.
Keterbatasan akses dan mutu pelayanan kesehatan hal ini dikarenakan sarana kesehatan umumnya dibangun hanya sampai wilayah kecamatan, dengan sarana dan prasarana yang serta sumber daya manusia yang sangat terbatas. Keterbatasan akses dan mutu pendidikan dipedesaan menjadikan pendidikan merupakan hal yang tidak penting. Mereka berfikir dengan bisa membantu berladang maka akan terpenuhi kebutuhan hidupnya, karena di desa masih banyak menyedikan lahan yang cukup untuk bertani dan berkebun.
Minimnya akses Transportasi, pendidikan dan kesehatan tersebut diatas jelas akan menyebabkan kemiskinan di pedesaan. Dengan berbagai keterbatasan tersebut maka penduduk desa bekerja untuk mendapatkan hasil yang sangat terbatas walau sudah berusaha maksimal. Disamping itu apabila banyaknya hasil komoditi di desa tersebut tidak bisa digunakan secara maksimal yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa tersebut, sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Bagi Penduduk yang merasa kaya di desa mereka akan meninggalkan desa dan pindah diperkotaan untuk mendapatkan berbagai akses pembangunan yang bisa di dapatkan di perkotaan. Akibatnya Penduduk yang tinggal di desa akan tetap menjadi miskin dan tertinggal dari segi ekonomi.
Selain itu tradisi di desa apa bila sudah selesai panen raya mereka mengadakan pesta sehingga tradisi ini tidak bisa meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat. Sehingga panen yang mereka menerima terima seharusnya bisa digunakan untuk sampai dengan musim panen berikutnya ternyata menjadi tidak cukup karena untuk pesta tersebut.

1.      1.      Pengertian kemiskinan
Miskin adalah suatu keadaan seseorang yang mengalami kekurangan atau tidak mampu memenuhi tingkat hidup yang paling rendah serta tidak mampu mencapai tingkat minimal dari tujuan‑tujuan yang telah ditetapkan. Tujuan tersebut dapat berupa konsumsi, kebebasan, hak mendapatkan sesuatu, menikmati hidup dan lain‑lain (Husen, 1993).
Menurut De Vos kemiskinan adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak mampu mencapai salah satu tujuannya atau lebih, tujuan‑tujuan yang dimaksud di sini tentunya dapat diinterpretasikan sesuai persepsi seseorang. Dengan demikian, kemiskinan dapat diartikan berdasarkan kondisi seseorang dalam mencapai tujuan-­tujuan yang diinginkan (Suparta, 2003).
Di lain pihak Friedmann (1979), mendefinisikan kemiskinan sebagai ketidaksamaan kesempatan untuk mengakumulasikan basis kekuatan sosial. Basis kekuatan sosial meliputi modal yang produktif atau asset (misalnya, tanah, perumahan, peralatan, kesehatan dan lain‑lain); sumber‑sumber keuangan (income dan kredit yang memadai); organisasi sosial dan politik yang dapat digunakan untuk mencapai kepentingan bersama (partai politik, sindikat, kopera­si dan lain‑lain); jaringan sosial untukmemperoleh pekerjaan, barang‑barang dan lain‑lain; pengetahuan dan keterampilan yang memadai; dan informasi yang berguna untuk memajukan kehidupan anda.
De Vos (1991) juga memberikan pengertian kemiskinan berdasarkan be­berapa pendekatan, yaitu batasan secara absolut dan batasan relatif. Kemiskinan secara absolut memberikan pengertian keadaan seseorang dalam pemenuhan kebutuhan minimum untuk hidup tanpa melihat kondisi lingkungan masyarakat. Sedangkan pengertian kemiskinan relatif memberikan pengertian keadaan seseorang bila dibandingkan dengan kondisi masyarakatnya sering berpindah‑pindah lapangan pekerjaan dan sebahagian besar pendapatannya.
Dari segi sosial, kemiskinan penduduk dapat juga disebutkan sebagai suatu kondisi sosial yang sangat rendah, seperti penyediaan fasilitas kesehatan yang tidak mencukupi dan penerangan yang minim (Sumardi dan Dieter, 1985). Kondisi sosial lain dari penduduk miskin biasanya dicirikan oleh keadaan rumah tangga dimana jumlah anggota keluarga banyak, tingkat pendidikan kepala rumah tangga dan anggota rumah tangga rendah, dan umumnya rumah tersebut berada di pedesaan (BPS, 2002).
Dari segi ekonomi, rumah tangga miskin dicirikan oleh jenis mata pencaharian pada sektor informal di pedesaan maupun di perkotaan, sering berpindah-pindah mata pencaharian dari produktivitas yang rendah sehingga menyebabkan pendapatan yang rendah. Karakteristik lain dari rumah tangga miskin adalah kecenderungan untuk menyediakan sebagian besar dari anggaran rumah untuk memenuhi kebutuhan pangan. Alokasi pendapatan yang cenderung hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan merupakan cerminan adanya kemiskinan rumah tangga (Hasbullah, 1983).
Sekurang‑kurangnya ada dua pendekatan untuk memberikan pengertian tentang kemiskinan. Pertama adalah pendekatan absolut yang menekankan pada pemenuhan kebutuhan fisik minimum, tolok ukur yang dipakai adalah kebutuhan minimal yang harus dipenuhi oleh seseorang atau keluarga agar dapat melangsungkan hidupnya pada taraf yang layak.
Pendekatan kedua adalah pendekatan relatif dimana kemiskinan ditentukan berdasarkan taraf hidupnya relatif dalam masyarakat (Suparlan, 1984). Secara konsepsional, kemiskinan dirumuskan sebagai suatu kondisi hidup yang serba kekurangan dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Secara operasional kriteria kemiskinan itu ditetapkan dengan tolok ukur garis kemiskinan. Penduduk miskin adalah golongan masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan, sedangkan target pembangunan biasanya dirumuskan sebagai upaya mengentaskan golongan masyarakat miskin agar mereka bisa berada di atas garis kemiskinan tersebut.
Mubyarto (1990) mengungkapkan bahwa kemiskinan adalah manifestasi dari keadaan keterbelakangan masyarakat, dimana melalui upaya‑upaya pendidikan dan modernisasi, kemiskinan dan keterbelakangan akan berkurang. Selanjutnya menurut Esmara (1979), yang dimaksud dengan tingkat kemelaratan absolut lebih banyak ditujukan terhadap tingkat kehidupan penduduk secara absolut, baik yang diukur dengan pemakaian kalori, tingkat gizi, sandang, sanitasi, pendidikan, dan sebagainya.
Esmara menyimpulkan, bahwa dalam menentukan garis kemelaratan perlu ditentukan suatu kebutuhan minimum yang memungkinkan orang hidup dengan layak. Menurutnya, memang sukar menentukan batas kelayakan jumlah pendapatan, pengeluaran konsumsi, kebutuhan kalori, dan sebagainya yang dapat digunakan sebagai titik tolak perhitungan. Esmara menyebutkan batas kebutuhan minimum tersebut sebagai “garis kemiskinan”. Batas tersebut juga biasa disebut dengan “garis kemiskinan” (Mubyarto,1990).
1.      2.      Pengertian Desa/Pedesaan
Yang dimaksud dengan desa menurut Sutardjo Kartohadikusuma mengemukakan sebagai berikut :
Desa adalah suatu kesatuan hukum di mana bertempat tinggal suatu masyarakat pemerintahan sendiri. Menurut Bintarto desa merupakan perwujudan atau kesatuan geografi, sosial, ekonomi, politik dan kultural yang terdapat di situ (suatu daerah) dalam hubungannya dan pengaruhnya secara timbal-balik dengan daerah lain. Sedangkan menurut Paul H. Landis : Desa adalah penduduknya kurang dari 2.500 jiwa, dengan ciri-cirinya sebagai berikut :
a)  Mempunyai pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antara ribuan jiwa.
b)    Ada pertalian perasaan yang sama tentang kesukaan terhadap kebiasaan.
c)    Cara berusaha (ekonomi) adalah agraris yang paling umum yang sangat dipengaruhi alam seperti : iklim, keadaan alam, kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris adalah bersifat sambilan.
Masyarakat pedesaan ditandai dengan pemilikan ikatan perasaan batin yang kuat sesama warga desa, yaitu perasaan setiap warga/anggota masyarakat yang amat kuat yang hakikatnya, bahwa seseorang merasa merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat di mana is hidup dicintainya serta mempunyai perasaan bersedia untuk berkorban setiap waktu demi masyarakatnya atau anggota-anggota masyarakat, karena beranggapan sama¬sama sebagai anggota masyarakat yang saling mencintai saling menghormati, mempunyai hak tanggung jawab yang sama terhadap keselamatan dan kebahagian bersama di dalam masyarakat. Adapun yang menjadi ciri-ciri masyarakat pedesaan antara lain sebagai berikut :
a) Di dalam masyarakat pedesaan di antara warganya mempunyai hubungan yang lebih mendalam dan erat bila dibandingkan dengan masyarakat pedesaan lainnya di luar batas-batas wilayahnya;
b) Sistem kehidupan umumnya berkelompok dengan dasar kekeluargaan (Gemeinschaft atau paguyuban).
c) Sebagian besar warga masyarakat pedesaan hidup dari pertanian. Pekerjaan-pekerjaan yang bukan pertanian merupakan pekerjaan sambilan (part time) yang biasanya sebagai pengisi waktu luang.
d) Masyarakat tersebut homogen, seperti dalam hal mata pencarian, agama, adat-istiadat dan sebagainya.
Oleh karena anggota masyarakat mempunyai kepentingan pokok yang hampir sama, maka mereka selalu bekerja sama untuk mencapai kepentingan-kepentingan mereka. Seperti pada waktu mendirikan rumah, upacara pesta perkawinan, memperbaiki jalan desa, membuat saluran air dan sebagainya, dalam hal-hal tersebut mereka akan selalu bekerjasama.
Bentuk-bentuk kerjasama dalam masyarakat sering diistilahkan dengan gotong royong dan tolong-menolong.
Pekerjaan gotong-royong pada waktu sekarang lebih populer dengan istilah kerja bakti misalnya memperbaiki jalan, saluran air, menjaga keamanan desa (ronda malam) dan sebagainya.
Sedang mengenai macamnya pekerjaan gotong-royong (kerja bakti) itu ada dua macam, yaitu :
a) Kerja bersama untuk pekerjaan-pekerjaan yang timbulnya dari inisiatif warga masyarakat itu sendiri (biasanya diistilahkan dari bawah).
b)  Kerjasama untuk pekerjaan-pekerjaan yang inisiatifnya tidak timbul dari masyarakat itu sendiri berasal dari luar (biasanya berasal dari atas).
Kerjasama jenis pertama biasanya, sungguh-sungguh dirasakan kegunaannya bagi mereka, sedang jenis kedua biasanya sering kurang dipahami kegunaannya.
Dalam buku Sosiologi karangan Ruman Sumadilaga seorang ahli Sosiologi “Talcot Parsons” menggambarkan masyarakat desa sebagai masyarakat tradisional (Gemeinschaft) yang mebngenal ciri-ciri sebagai berikut :
a. Afektifitas ada hubungannya dengan perasaan kasih sayang, cinta , kesetiaan dan kemesraan. Perwujudannya dalam sikap dan perbuatan tolong menolong, menyatakan simpati terhadap musibah yang diderita orang lain dan menolongnya tanpa pamrih.
b. Orientasi kolektif sifat ini merupakan konsekuensi dari Afektifitas, yaitu mereka mementingkan kebersamaan , tidak suka menonjolkan diri, tidak suka akan orang yang berbeda pendapat, intinya semua harus memperlihatkan keseragaman persamaan.
c. Partikularisme pada dasarnya adalah semua hal yang ada hubungannya dengan keberlakuan khusus untuk suatu tempat atau daerah tertentu. Perasaan subyektif, perasaan kebersamaan sesungguhnya yang hanya berlaku untuk kelompok tertentu saja.(lawannya Universalisme)
d. Askripsi yaitu berhubungan dengan mutu atau sifat khusus yang tidak diperoleh berdasarkan suatu usaha yang tidak disengaja, tetapi merupakan suatu keadaan yang sudah merupakan kebiasaan atau keturunan.(lawanya prestasi).
e. Kekabaran (diffuseness). Sesuatu yang tidak jelas terutama dalam hubungan antara pribadi tanpa ketegasan yang dinyatakan eksplisit. Masyarakat desa menggunakan bahasa tidak langsung, untuk menunjukkan sesuatu. Dari uraian tersebut (pendapat Talcott Parson) dapat terlihat pada desa-desa yang masih murni masyarakatnya tanpa pengaruh dari luar.

1.      3.      Permasalahan di Pedesaan
Pada umumnya msyarakat pedesaan pengalami beberapa permsalahan di Desa adalah:
1.      Masalah insfrastruktur yang kurang mendukung, seperti jalan yang berbatu atau becek apa bila hujan, dan berdebu apabila musim kemarau. Sarana air bersih masih secara alami.
2.      Masalah Transportasi, karena sarana jalannya kurang mendukung maka transportasi juga menjadi masalah, hal ini terasa sekali apabila warga desa aa yang menderita sakit dan harus berobat ke rumah sakit yang  biasanya ada di perkotaan.
3.      Masalah Berkurangnya sumber daya alam, karena alam yang telah menyediakan berbagai kebutuhan masyarakat tidak dipelihara bahkan cederung di biarkan terlantar, sehingga tidak bisa menyediakan kebutuhan masyarakat desa.
4.      Masalah rusaknya lingkungan sekitarnya, sebagai akibat diekploitasi dan tidak di jaga kelestariannya, maka lambat laun akan berkurang sumber daya alamnya.
5.      Masalah komunikasi, Di pedesaan pada umumnya sarana komunikasi juga minim, akibatnya warga desa akan kurang bisa berkembang karena sulit untuk dapat mengakses Informasi dari luar pedesaan.
6.      Masalah Tanah, juga biasanya bisa menjadi permasalahan, karena mereka rata-rata enggan untuk mengurus tanahnya secara resmi, seperti mengurus sertifikat kepemilikan yang legal.
7.      Masalah kesehatan di pedesaan terasa masih rendah, apabila ada sarana tempat berobat, biasanya hanya Pusksemas pembantu, dengan tenaga yang sangat terbatas. Peran non medis lebih menonjol, karena dianggap lebih murah, dan percaya bahwa penyakit disebabkan oleh alam sekitar.
8.      Masalah pendidikan sepertinya lebih menonjol di pedesaan, karena disamping sarana pendidikan yang ada hanya sampai tingkat SD atau SMP, maka orang-orang yang berpendidikan tinggi biasanya enggan untuk tinggal di Desa, mereka lebih senang mencari pekerjaan di Kota.
9.      Masalah Sosial, sebagaian besar masyarakat Desa bisa dikatakan belum sejahtera, karena berbagai keterbatasan tersebut diatas, apabila masyarakat Desa di beri akses seperti masyarakat kota, mereka juga bisa lebih sejahtera.







1.      B.     Permasalahan
Berdasarkan uraian diatas dapat diketahui bahwa pada umumnya di pedesaan masalah yang paling banyak dihadapi dan perlu adanya pemecahan masalah adalah masalah insfrastruktur seperti jalanan yang berkibat kurang lancarnya transportasi, karena dengan kurangnya transportasi maka komunikasi tidak bisa berjalan dengan baik, demikian juga distribusi komoditi baik hasil yang ada di desa maupun yang diperlukan didesa tidak  menjadi lancar. Kemiskinan wilayah desa dapat dilihat di beberapa daerah komunitas adat terpencil, keterpencilan ini disebabkan karena belum tersedianya sarana transportasi sebagai sarana utama. Misalnya di Desa Sekaih Kecamatan Ketungau Hulu, Kabupaten Sintang, Desa Muhi Bersatu Kecamatan Suti Semarang Kabupaten Bengkayang, Desa Krio Hulu Kecamatan Hulu sungai Kabupaten Ketapang, Desa Senggoang Kecamatan Meranti, Kabupaten Landak dan lain-lain.
Berkurangnya sumber alam, sumber daya alam yang selama ini dieskploitasi secara besar-besaran mengakibatkan berkurangnya sumber daya alam tersebut. Akibatnya karena sumber daya terbatas, ditambah keterampilan yang sangat minim, maka akan menjadikan masyarakat pedesaan semakin miskin, Ekploitasi besar-besaran yang dilakukan oleh para Pemegang HPH, membuktikan meninggalkan tanah gunduk karena hutannya ditebang habis. Dan sekarang tanah-tanah pedesaan dikuasai oleh pengusaha perkebunan, sehingga masyarakat pedesaan hanya sebagai “penonton” ditanahnya sendiri.
Rusaknya lingkungan sekitarnya yang disebabkan oleh para penambang baik liar atau berizin. Begitu juga ekploitasi alam yang besar-besaran untuk perkebunan sawit dapat merusak lingkungan sekitar.
Masalah kemiskinan di pedesaan disebabkan oleh, terbatasnya cakupan pangan dan mutu pangan, hal ini dapat diketahui bahwa di pedesaan pada umumnya bahan pangan diperoleh dan diolah dengan cara yang sederhana yang berakibat rendahya mutu pangan, mereka lebih akrab dengan alam yang telah menyediakan bahan pangan.

1.      C.    Pembahasan Masalah dan Solusi
Permasalahan utama di pedesaan pada umumnya adalah masalah transportasi, untuk pedesaan yang transportasinya sudah lancar cenderung lebih maju, karena sumua kebutuhan dengan mudah bisa di dapatkan, dengan biaya yang tidak terlalu tinggi. Hal ini dapat di lihat perekonomian misalnya Daerah suangi ambawang yang dilalui jalan raya, terlihat perkembangan masyarakatnya jauh lebih maju dari pada sebelum adanya jalan trans Kalimantan tersebut. Kemajuan yang bisa kita lihat mereka rata-rata punya kendaraan bermotor, warung banyak berdiri di sepanjang jalan, dibukanya tempat pencucian kendaraan bermotor serta usaha-usaha jasa lainnya. Sehingga bisa menaikkan penghasilan masyarakat di sepanjang jalan tersebut.
Seperti dikemukakan diatas, bahwa masih banyak desa-desa yang terisolasi, sehingga mengalami keterpencilan dan keterbelakangan. Untuk dapat mengatasi masalah kemiskinan di pedesaan maka diperlukan hal-hal sebagai berikut :

1.      1.      Masalah Keisolasian atau masalah transportasi
Di pedesaan pada umumnya masalah transportasi terutama jalan darat sangat minim sekali. Hal inilah faktor utama kenapa masyarakat pedesaan cenderung miskin, Karena keterbatasan infomasi dan komunikasi dengan daerah luar, Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja diperlukan biaya yang cukup tinggi, Sedangkan apabila ada hasil komoditas yang harus dijual juga memerlukan biaya tinggi akibatnya komoditas dihargai dengan harga yang sangat rendah. Apa bila di sediakan jalan maka harga komoditas yang dimiliki masyarakat harganya akan naik yang akan menambah kekayaan masyarakat pedesaan yang pada akhirnya akan lepas dari kemiskinan.
Terbatasnya trasnportasi di pedesaan berakibat lambatnya perputaran perekonomian di daerah pedesaan. Petugas dari kota yang bisa mentransfer teknologi juga sangat jarang sekali, akibatnya kehidupan di pedesaan terkesan monoton. Apabila ada jalan yang mudah dilalui ke desa tersebut maka proses alih teknologi juga akan berjalan dengan cepat, sehingga akan memacu perekonomian di pedesaan. Dengan sentuhan tehnologi tepat guna pertanian maka cara bertani akan semakin berkembang yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahateraan masyarakat.
Solusi yang bisa ditempuh dalam mengatasi permasalahan ini adalah antara Pemerintah, masyarakat dan Swasta (pelaku usaha) perlu bersama-sama memecahkan permasalahan ini mengingat besarnya dana yang digunakan untuk mengatasi keterisolasian tersebut, yaitu dengan cara sebagai berikut :
1.      Pemerintah baik pemerintah pusat maupun daerah, secara bersama-sama memfokuskan dalam mengatasi permasalahan insfrasruktur keterisolasian atau masalah tansportasi, karena masalah transportasi adalah masalah yang paling utama yang berkaitan dengan kemiskinan di pedesaan.
2.      Masyarakat desa bisa dengan cara bergotong-royong membangu jalan guna membuka keterisolasian yang dikoordinir oleh pemerintah setempat, mengingat masyarakat mempunyai sumber daya berupa sifat kegotong-royongan.
3.      Pelaku usaha dalam hal ini swasta yang bergerak di desa tersebut dapat memberikan bantuan sebagai wujud pertanggungjawaban perusahaan dalam program CSR.

1.      2.      Kurangnya Sumber Daya Alam.
Berkurangannya Sumber daya alam yang ada di masyakarat pedesaan disebabkan, masyarakat desa selalu mengambil hasil dari alam tetapi tidak menjaga kelestariannya, alam yang tersedia terbatas dan cenderung berkurang, sementara penduduk desa yang menggunakan cenderung meningkat, akibatnya kebutuhan masyarakat yang bergantung pada alam semakin berkurang, apabila dibiarkan terus menerus tanpa ada teknologi yang dapat menciptakan nilai tambah maka kemiskinan di pedesaan akan semakin meluas. Sumber daya alam yang berkurang seperti tersedianya air bersih, karena penggunanya lebih banyak, juga sumber-sumber lain yang disediakan oleh alam.
Perusakan alam atara lain disebabkan pada saat tertentu masyarakat desa menggunakan tuba untuk menangkap ikan, akibatnya habitat ikan yang ada di sungai itu mati semuanya, dengan demikian maka sangat nyata kerusakan alam oleh manusia, karena ketidak-pedulian dan mengharapkan untung banyak dengan cara yang mudah.
Solusi untuk mempertahankan sumber daya alam, maka penduduk pedesaan perlu di berikan sosialisasi akan pentingnya sumber daya alam yang terbatas, serta bagaimana cara mempertahankan dan melestarikan sumber daya alam yang sangat diperlukan dalam masyarakat pedesaan.

1.      3.      Rusaknya lingkungan sekitarnya
Rusaknya lingungan sekitar desa, khususnya di daerah pedesaan yang kaya akan tambang, seperti emas, kerusakan lingkungan sekitar ini disebabkan karena ekploitasi alam yang berlebihan baik penambang tanpa izin (peti) atau penambangan liar, maupun penambangan yang berizin. Penggunaan mercure yang berlebihan yang bisa mencemarkan sungai di sekitar penambangan, disamping itu akan meninggalkan lingkungan yang rusak karena tidak bisa digunakan untuk lahan pertanian, atau usaha lainya seperti perkebunan.
Solusi yang bisa di tempuh adalah memberikan sosialisasi kepada masyarakat sekitar untuk menjaga lingkungan disamping juga kepada penambang liar maupun berizin agar memperhatikan lingkungan hidup. Dalam memberikan sosialisasi ini peran pemerintah cukup besar, disamping itu agar dibuat aturan serta sanksi yang jelas dalam rangka mempertahankan kelestarian lingkungan. Dengan adanya aturan dan sanksi yang yang jelas diharapkan aturan ditaati bersama sehingga kelestarian alam tetap terjaga.


1.      D.    Penutup.
1.      1.      Kesimpulan
Kemiskinan  dan permalasahan di pedesaan adalah merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, karena sebagain besar penduduk Indonesia yang miskin adalah yang tinggal di daerah pedesaan, adapun yang menjadi permasalahan penyebab kemiskinan yang paling utama adalah :
1.      Masalah Keisolasian atau masalah transportasi, karena Terbatasnya trasnportasi di pedesaan berakibat lambatnya perputaran perekonomian di daerah pedesaan. Petugas dari kota yang bisa mentransfer teknologi juga sangat jarang sekali, akibatnya kehidupan di pedesaan terkesan monoton.
2.      Masalah Kurangnya Sumber Daya Alam yang ada di masyakarat pedesaan disebabkan, masyarakat desa selalu mengambil hasil dari alam tetapi tidak menjaga kelestariannya, alam yang tersedia terbatas dan cenderung berkurang, sementara penduduk desa yang menggunakan cenderung meningkat, akibatnya kebutuhan masyarakat yang bergantung pada alam semakin berkurang.
3.      Masalah Rusaknya lingkungan sekitarnya, khususnya di daerah pedesaan yang kaya akan tambang, seperti emas, kerusakan lingkungan sekitar ini disebabkan karena ekploitasi alam yang berlebihan baik penambang tanpa izin (peti) atau penambangan liar, maupun penambangan yang berizin.
4.      2.      Solusi/Saran :
1.      Masalah Keisolasian/transportasi Solusi yang bisa ditempuh dalam mengatasi permasalahan ini Pemerintah, masyarakat dan Swasta (pelaku usaha) perlu bersama-sama memecahkan permasalahan ini mengingat besarnya dana yang digunakan untuk mengatasi keterisolasian tersebut.
2.      Masalah Kurangnya Sumber Daya Alam solusinya adalah penduduk pedesaan perlu di berikan sosialisasi akan pentingnya sumber daya alam yang terbatas.
3.      Masalah Rusaknya lingkungan sekitarnya dengan Solusi yang bisa di tempuh adalah memberikan sosialisasi kepada masyarakat sekitar untuk menjaga lingkungan disamping juga kepada penambang liar. maupun berizin agar memperhatikan lingkungan hidup




Jumat, 05 Februari 2016

Gepeng dan  contoh kasus seksual yg ada di indonesia

Contoh khasus gepeng yang ada di indonesia serta undang2nya

Undang - Undang Dasar 1945 adalah Landasan konstitusional Negara Kesatuan Republik Indonesia. Para pendiri negeri ini telah merumuskannya, sejak Bangsa Indonesia Merdeka dari jajahan para kolonialisme. UUD 1945 adalah sebagai hukum dasar tertinggi dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara. UUD 1945 telah di amandemen empat kali pada tahun 1999, 2000, 2001, dan 2002 yang telah menghasilkan rumusan Undang - Undang Dasar yang jauh lebih kokoh menjamin hak konstitusional warga negara. Gepeng , anak jalanan, pemerintah, dan UUD 1945 Pasal 34 ayat 1 saling berhubungan, lihat UUD 1945 Pasal 34 Ayat 1 yang  berbunyi Fakir Miskin dan anak - anak yang terlantar dipelihara oleh negara. UUD 1945 Pasal 34 Ayat 1 tersebut mempunyai makna bahwa gepeng dan anak - anak jalanandipelihara atau diberdayakan oleh negara yang dilaksanakan oleh pemerintah. Fakir ialah orang yang tidak berdaya karena ridak mempunyai pekerjaan apalagi penghasilan, dan juga mereka tidak mempunyai sanak saudara di bumi ini. Miskin ialah orang yang sudah memiliki penghasilan tapi tidak mencukupi pengeluaran kebutuhan mereka, tapi mereka masih mempunyai keluarga yang sekiranya masih mampu membantu mereka yang miskin. Jadi Fakir miskin dapat dikatakan orang yang harus kita bantu kehidupannya dan pemerintahlah yang seharusnya lebih peka akan keberadaan mereka. Fakir miskin disini dapat digambarkan melalui gepeng-gelandangan dan pengemis. Masih banyak kita melihat di perkotaan dan di daerah para gepeng yang mengemis di jalanan, pusat keramaian, lampu merah, rumah ibadah, sekolah maupun kampus. Anak - anak terlantar seperti  anak - anak jalanan, anak yang ditinggali orang tuanya karena kemiskinan yang melandanya. Ironis memang, masih banyak gepeng dan anak jalanan yang berada di jalan dan meningkat setiap tahunnya, bahkan mereka menjadi bisnis baru dari pihak - pihak yang tidak bertanggung jawab. Hal ini harusnya menjadi tamparan bagi pemerintah yang mengempanyekan menekan angka kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin, dan tidak sesuai dengan yang diamanatkan oleh UUD 1945 Pasal 34 Ayat 1 yaitu Fakir Miskin dan anak - anak terlantar dipelihara oleh negara. Dimana peran pemerintah untuk menjalankan pasal tersebut, dan sudah jelas di pembukaan UUD 1945 yaitu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk    memajukan  mensejahterakan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia, hal ini seharusnya dilaksanakan oleh pemerintah bukan hanya sebagai kiasan saja. Berbanding terbalik dengan amanat UUD 1945, saya melihat di berbagai media bahwa penertiban gepeng dan anak jalanan tidak berlandaskan nilai kemanusiaan, mereka di paksa bahkan sampai mereka berasa sakit ketika digiring oleh petugas ke mobil penertiban, seperti nangkap ayam, lalu mereka dibawa di tempat rehabilitasi sosial untuk di data dan setelah itu dilepaskan kembali dan lagi - lagi menghiasi jalanan, perempatan lampu merah, bus, tempat ibadah dan tempat keramaian lainnya. Sedikit sekali dari mereka-gepeng dan anak jalanan yang diberdayakan atau disekolahkan. Walaupun pemprov DKI Jakarta mengeluarkan undang - undang tentang pelarangan pemberian uang dan apapun dengan tujuan menekan angka gepeng dan anak jalanan, tapi tetap saja tidak efektif. Siklus itu tetap berjalan walaupun tanpa hasil yang nyata untuk memelihara atau memberdayakan dan mengurangi jumlah gepeng dan anak jalanan. Gepeng dan Anak Jalanan juga merupakan manusia yang kurang beruntung. Akibat pemerintah tidak menjalankan amanat UUD 1945 dengan sungguh - sungguh, banyak sekali dari gepeng dan anak jalanan yang menjadi korban kejahatan, lihat saja kasus mutilasi anak jalanan di daerah pulogadung, tragis memang tapi itulah yang terjadi , selain itu gepeng dan anak jalanan juga dimanfaatkan oleh pihak - pihak yang tidak bertanggung jawab, demi kepentingan pihak tersebut dengan membisniskan mereka untuk meningkatkan kesejahteraan pihak tersebut dan pelecehan seksual, acapkali terjadi terhadap gepeng dan anak jalanan. Andai saja pemerintah mau memperhatikan dan memberdayakan secara sungguh - sungguh mungkin hal yang buruk itu tidak terjadi bahkan angka kemiskinan akan berkurang. Gepeng dan anak Jalanan tidak akan bertambah bahkan tidak akan ada jikalau di daerah perdesaan atau tempat mereka berasal memiliki lapangan pekerjaan dan tidak tersentralisasinya pembangunan di perkotaan saja.

Contoh Khasus seksual yg ada di indonesia serta tanggapanya

3.      Pergaulan Bebas
Dewasa ini pergaulan bebas yang mengarah pada perilaku sex pra nikah (berkencan, berpegangan tangan, mencium pipi, berpelukan, mencium bibir, memegang buah dada di atas baju, memegang buah dada di balik baju, memegang alat kelamin di atas baju, memegang alat kelamin di bawah celana, dan melakukan senggama) sudah menjadi sesuatu yang biasa, padahal hal tersebut tidak boleh terjadi (Samino, 2012).
Perilaku seksual pranikah yang dilakukan oleh remaja berawal dari munculnya “ chemistry” (ketertarikan) terhadap lawan jenis sebagai dampak dari perkembangan seksual yang dialami. Ketertarikan tersebut mengundang remaja untuk menjalin suatu hubungan romantis, dimana dalam hubungan romantis tersebut remaja mulai mengembangkan bentuk-bentuk perilaku seksual sejalan dengan meningkatnya dorongan seksual remaja yang menimbulkan keinginan-keinginan yang tidak mudah dipahami oleh remaja (Andayani dan Setiawan, 2005).
Perubahan sosial mulai terlihat dalam persepsi masyarakat yang pada mulanya menyakini seks sebagai sesuatu yang sakral menjadi sesuatu yang tidak sakral lagi, maka saat ini seks sudah secara umum meluas di permukaan masyarakat. Ditambah dengan adanya budaya permisifitas seksual pada generasi muda tergambar dari pelaku pacaran yang semakin membuka kesempatan untuk melakukan tindakan-tindakan seksual juga adanya kebebasan seks yang sedang marak saat ini telah melanda kehidupan masyarakat yang belum melakukan perkawinan. Bahkan aktivitas seks pranikah tersebut banyak terjadi di kalangan remaja dan pelajar yang sedang mengalami proses pembudayaan dengan menghayati nilai-nilai ilmiah (Salisa, 2010).

Dalam kehidupannya, remaja tidak akan pernah lepas dari apa yang dinamakan “percintaan”. Hampir seluruh remaja di dunia, termasuk Indonesia, mempunyai suatu budaya untuk mengekspresikan percintaan tersebut, yakni dengan apa yang biasa disebut “pacaran”. Pacaran merupakan hal yang sudah lazim di kalangan remaja saat ini. Cara mereka mengisi pacaran pun bermacam-macam, mulai dari yang biasa sampai yang luar biasa yang tidak diterima karena telah melanggar ketentuan norma yang ada. Salah satu cara yang paling tidak diterima di masyarakat adalah seks bebas (Karmila, 2011).
Kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dalam melakukan hubungan sesual bebas di kalangan remaja adalah sebagai berikut : 1)Kehamilan Remaja. Faktor-faktor yang perlu mendapat perhatian sehubungan dengan masalah kehamilan remaja adalah: (a) Masalah keadaan reproduksi. Kesehatan reproduksi merupakan masalah penting di kalangan remaja-remaja yang kelak akan menikah dan menjadi orang tua sebaliknya mempunyai kesehatan prima sehingga dapat menurunkan generasi (b)  Masalah psikologis pada ke hamilan remaja. Remaja yang hamil diluar nikah menghadapi masalah psikologis, yaitu rasa takut kecewa, menyesal, malu dan rendah diri terhadap kehamilannya. Sehingga terjadi usaha untuk menghilangkan dengan jalan menggugurkan kandungan (aborsi), (c) Masalah sosial dan ekonomi keluarga; (1).Penghasilan yang terbatas, (2).Putus sekolah, sehingga pendidikan menjadi terlantar (3) Nilai gizi yang relatif rendah dapat menimbulkan berbagai masalah kebidanan, dan (c) Dampak kebidanan pada kehamilan remaja. Penyulit kehamilan pada remaja tinggi dibandingkan kurun waktu reproduksi sehat antara umur 25 sampai 35 tahun. Keadaan ini disebabkan belum matang alat reproduksi untuk hamil, sehingga dapat merugikan kesehatan ibu perkembangan dan pertumbuhan janin. sehingga memudahkan terjadi ( (1) Keguguran , (2).Persalinan premature, berat badan lahir rendah (BBLR) dan (3)Mudah terjadi infeksi, (4).Anemia pada kehamilan, ( 5) Keracunan kehamilan, dan (6) Kematian ibu yang tinggi (Manuaba, 1999)



sumber: http://kontesblogmuslim.com/karya-kbm3-penyimpangan-moral-remaja-penyebab-dan-solusinya/
sumber : http://www.kompasiana.com/niko_ramandhana/gepeng-anak-jalanan-pemerintah-dan-uud-1945-pasal-34-ayat-1_54ff5aa6a333114e4a50ffa1
 Sosial dan Kebudayaan yang ada di masyarakat Pekalongan 

Contoh yang pertama adalah kota pekalongan ada lah kota batik jadi ciri khas dari kota saya ini adalah batiknya yg khas 





















ini dia contoh batik dan motif batik khas Pekalongan.


Masih banyak lagi kebudaya di kota saya yaitu kota pekalongan
Saya juga sering melihat pertunjukan tarian yg sering saya lihat di daerah jawa tengah sedikitnya saya ingin mengulas  tarian  ini yaitu tarian sintren yg sangat aneh.

 
Tarian ini merupakan salah satu tarian tradisional klasik dari Jawa tengah. Namanya adalahTari Sintren.
Apakah Tari Sintren itu?
Tari Sintren merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari pesisir utara pantai Jawa tengah dan Jawa barat. selain gerak tarinya, tarian ini juga terkenal dengan unsur mistis di dalamnya karena adanya ritual khusus untuk pemangilan roh atau dewa. Tari Sintren ini tersebar di beberapa tempat di Jawa tengah dan Jawa barat seperti di Cirebon, Majalengka, Indramayu, Brebes, Pemalang, Pekalongan dan Banyumas.

Menurut sejarahnya, tarian ini berawal dari percintaan Raden Sulandono dan Sulasih yang tidak mendapat restu dari orang tua Raden Sulandono. Sehingga Raden Sulandono di perintahkan oleh ibunya untuk bertapa dan diberikan selembar kain sebagai sarana kelak untuk bertemu dengan Sulasih setelah pertapaannya selesai. Sedangkan Sulasih diperintahkan untuk menjadi penari di setiap acara bersih desa yang di adakan sebagai syarat untuk bertemu Raden Sulandono.

Saat pertunjukan rakyat yang diadakan untuk memeriahkan bersih desa, pada saat itulah Sulasih menari sebagai bagian pertunjukan. Malam itu saat bulan purnama, Raden Sulandono pun turun dari pertapaannya dengan cara bersembunyi sambil membawa kain yang diberikan oleh ibunya. Pada saat Sulasih menari, dia pun di rasuki kekuatan Dewi Rantamsari sehingga mengalami trance. Melihat seperti itu Raden Sulandono pun melemparkan kain tersebut sehingga Sulasih pingsan. Dengan kekuatan yang di miliki oleh Raden Sulandono, maka Sulasih dapat dibawa kabur dan keduanya mewujudkan cita – citanya untuk bersatu dalam cinta. Sejak saat itulah sebutan Sintren dan balangan muncul sebagai cikal bakal dari Tari Sintren ini. Istilah Sintren adalah keadaan saat penari mengalami kesurupan atau trance. Dan istilah Balangan adalah saat Raden Sulandono melempar kain yang di berikan oleh ibunya. 
Gambar : Pertunjukan Tari Sintren
Dalam pertunjukan Tari Sintren biasanya diawali dengan Dupan, yaitu ritual berdoa bersama untuk memohon perlindungan dari mara bahaya kepada Tuhan selama pertunjukan berlangsung. Ada beberapa bagian dalam pertunjukan Tari Sintren yaitu Paripurna, Balangandan Temohan. Pada bagian Paripurna adalah bagian dimana pawang menyiapkan seorang yang akan di jadikan Sintren dengan di temani oleh 4 pemain sebagi Dayang. Awalnya seorang penari yang dijadikan Sintren masih memakai pakaian biasa. Pada bagian ini diawali dengan membacakan mantra dengan meletakkan kedua tangan calon penari Sintren di atas asap kemenyan, setelah itu penari di ikat dengan tali di seluruh tubuhnya. Kemudian calon penari Sintren dimasukan ke dalam sangkar ayam bersama dengan busana dan perlengkapan riasnya. Setelah sudah jadi maka akan di tandai dengan kurngan yang bergetar dan kurungan akan di buka. Penari Sintren tersebut pun sudah siap untuk menari.

Pada bagian Balangan adalah saat penonton melempar sesuatu kearah penari Sintren. Saat penari terkena lemparan itu maka penari Sintren akan pingsan. Lalu pawang mendatangi penari yang pingsan tersebut dan membacakan mantra dan mengusap wajah penari agar roh bidadari datang lagi dan melanjutkan menarinya. Penonton yang melemparnya tadi di perbolehkan untuk menari dengan penari Sintren. Pada bagian Temohan adalah bagian dimana para penari Sintren dengan nampan mendekati penonton untuk meminta tanda terima kasih dengan uang seiklasnya. 

Untuk menjadi penari Sintren ada beberapa syarat yang harus di miliki calon penari, terutama sebagai penari Sintren harus masih gadis atau masih perawan karena penari Sintren harus dalam keadaan suci. Selain itu para penari Sintren di wajibkan berpuasa terlebih dahulu, agar tubuh si penari tetap dalam keadaan suci dan menjaga tingkah lakunya agar tidak berbuat dosa dan berzina. Sehingga dapat menyulitkan bagi roh ataun dewa yang akan masuk dalam tubuhnya.

Dalam pertunjukannya, Busana yang di gunakan oleh penari Sintren adalah baju golek, yaitu baju tanpa lengan yang biasa digunakan dalam tari golek. Pada bagian bawah biasanya menggunakan kain jarit dan celana cinde. Untuk bagian kepala biasanya menggunakanjamang, yaitu hiasan untaian bunga melati di samping kanan dan koncer di bagian kiri telinga. Aksesoris yang di gunakan biasanya adalah sabuk, sampur, dan kaos kaki hitam/putih. Selain itu yang juga sebagai ciri khas dari penari Sintren adalah kaca mata hitam yang berfungsi sebagi penutup mata. Karena penari Sintren selalu memejamkan mata saat keadaan trance atau kesurupan, selain itu juga sebagai mempercantik penampilan.Dalam pertunjukan Tari Sintren juga di iringi oleh alat musik seperti Gending. Dan di iringi dengan lagu Jawa. Namun, pada saat ini alat musik yang digunakan adalah alat musik modern seperti orkes. 
Gambar : Penari Sintren
Dalam perkembangannya, Tari Sintren mulai tenggelam seiring dengan perkembangan jaman. Tarian ini sudah jarang di tampilkan, sekalipun di daerah asalnya. Seiring dengan perkembangan, Tari Sintren sudah  banyak perubahan pada bentuk aslinya. Banyaknya kreasi yang di tambahkan agar tarian ini terlihat menarik. Tarian ini merupakan tarian yang langka dan jarang di temukan. Selain dari segi artistic tarian ini juga memiliki nilai – nilai yang dapat kita pelajari di dalamnya. Tari Sintren ini harus kita lestarikan dan di jaga keberadaannya sebagai warisan budaya bangsa kita.

Dikota pekalongan ini juga banyak kuliner khas pekalongan salah satunya yaitu nasi megono dan masih bnyak lagi 
berikut ulasan khuliner yg ada di pekalongan

Selain terkenal dengan Batiknya, Pekalongan juga memiliki kuliner yang khas dan sayang untuk dilewatkan. Mau tahu apa saja kuliner tersebut, berikut adalah 6 Kuliner khas Pekalongan.
1.  Megono
Megono bisa jadi berasal dari kata ‘mergo’ atau sebab dan ‘ono’, artinya ada.  Megono berbahan dasar nangka muda dan kelapa. Jika nangka muda sulit didapat, maka tanpa mengurangi nikmatnya rasa megono, rebung atau tunas bambu dijadikan penggantinya.
Pada masa lalu, megono umumnya hanya bisa dijumpai di warung-warung makan kelas menengah ke bawah sepanjang pantura dari Pekalongan hingga Batang.
Namun, kini telah diadopsi bersama soto Pekalongan, dapat ditemui di beberapa restoran di Semarang, Jakarta juga kota besar lain. Membuat megono tak terlampau rumit.
Nangka muda yang telah dicacah hingga kecil-kecil direbus. Setelah matang dicampur dengan bumbu urap yang terdiri dari parutan kelapa dan bumbu dapur yang dihaluskan seperti bawang putih, bawang merah, cabe, jeruk purut, kencur dan garam.
Menghidangkannyapun cukup sederhana, yaitu nasi putih langsung diberi taburan megono. Meski tergolong sederhana dan lazimnya jadi lauk masyarakat akar rumput di pekalongan, megono layak anda coba. Selamat berkelana mencari megono di pantura
2.  Pindang Tetel
Pindang tetel adalah sayur berkuah berisi tetelan daging sapi dan irisan daun bawang dengan bumbu pindang, yaitu rempah-rempah bercampur kluwak. Ciri khas lain pindang tetel adalah kehadiran kerupuk merah dan kuning yang digoreng dengan pasir. Pindang tetel tidak cocok berpadu dengan kerupuk yang digoreng dengan minyak karena akan merusak cita rasanya.  Pindang Tetel banyak dijumpai di  Kecamatan Kedungwuni  dan yang paling khas adalah di Desa Ambokembang.
3.  Garang Asem
Hampir sama dengan Pidang tetel,  Garang Asam juga berisi tetelan daging sapi  namun kuahnya diberi banyak tomat, sehingga memberian rasa asam namun segar. Garang asam biasanya dicampur dengan daging, jerohan atau telur. Biasanya Garang asam dimasak agak pedas, sehingga rasanya tambah nikmat. Di kota pekalongan Garang asam banyak sekali djumpai diwarung – warung terutama pada siang hari.
4. Tauto
Tauto pekalongan adalah soto dengan bumbu tauco. Soto asal Pekalongan ini memang menggunakan taoco manis sebagai bumbunya. Untuk isinya tauto menggunakan daging sandung lamur, telur rebus dan emping. Sajikan dengan taburan bawang goreng, daun seledri dan perasan air jeruk nipis.
Penyajian tauto  cukup sederhana, hanya berisi dengan bihun putih, daun bawang, bawang merah dan kuah sotonya.  Setelah semuanya dicampur, baru kemudian ditambahkan dengan tauto nya, yaitu kedelai yang telah dimasak dan dihaluskan. Dengan tambahan bumbu kedelai ini, kuahnya bertambah harum dengan cita rasa yang khas. Rupanya hal inilah yang membedakan dengan soto-soto lainnya yang ada. Sebagai menu pelengkap biasanya tersedia tempe dan tahu goreng khas Pekalongan.
5.  Kluban
Kluban  itu makanan warga Pekalongan ,  khususnya di wilayah Kabupaten Pekalongan , seputar Kec.  Kedungwuni, Pekajangan , Wonopringgo pada sore hari menjelang Magrib dan setelah maghrib. Kluban itu Urapan terdiri dari Kacang panjang, taoge, Kol, bayam atau kangkung dengan bumbu Mboksiyah = lombok trasi uyah (garam ), di tambah kencur dan di urap bersama parutan kelapa. Kluban biasanya dicampur dengan Bothok atau Pindang tetel.
Bothok itu sayur Lodeh yang biasanya berisi Tahu dan Bongkrek (oncom)  dengan santen encer trus di guyurkan ke sepincuk (daun pisang yang di lipet dan di semat lidi untuk tempat Kluban). Kluban Bothok dan Kluban Pindang tetel biasanya jadi makanan yang di kangenin warga Pekalongan di luar kota setiap lebaran tiba .
6.  Kripik Tahu
Keripik adalah makanan ringan (snack food) yang tergolong jenis makanan crackers, yaitu makanan yang bersifat kering renyah (crispy). Keripik memang cemilan yang cukup digemari masyarakat kita, mulai dari anak – anak hingga ke orang tua. Makanan ringan yang gurih dan renyah ini memang cocok menjadi cemilan / teman saat berkegiatan, serta dapat pula dimakan sebagai pengganti lauk pauk.
Jika Anda ingin mencicipi keripik tahu ini, cobalah berkunjung ke Pekalongan. Di daerah Pekalongan, keripik tahu sudah menjadi cemilan khas daerah sebagai salah satu alternatif makanan ringan yang sehat dan alami. Di toko makanan atau oleh-oleh di Pekalongan, keripik tahu biasanya dipajang di etalase bersama jajanan lainnya. Seperti halnya keripik tempe, keripik tahu tak hanya renyah, namun juga menyehatkan karena terbuat dari bahan alami, yaitu kedelai. Prosesnya juga dilakukan secara alami tanpa bahan pengawet atau kimia.




Tugas Softskill

Quantum Computation TUGAS SOFTSKILL  QUANTUM COMPUTATION Nama Kelompok :     Aditya Aryanto       (50415172)     Dimas A...