Masalah
Sosial di Lingkup Terkecil(pedesaan)
KEMISKINAN DAN
PERMASALAHAN DI PEDESAAN
1.
A. Pendahuluan
Masyarakat kita sebagain
besar tinggal didaerah pedesaan, dan sebagian besar penduduknya hidup dalam
kemiskinan. Penyebab kemiskinan masyarakat desa yaitu : Keisolasian
wilayah, kekurangan sumber daya alam dan rusaknya lingkungan sekitarnya.
Berdasarkan angka kemiskinan Kalimantan Barat tahun 2009 mencapai 9,3 % atau
secara nasional menempati urutan ke 17. Provinsi Kalimantan Barat memiliki
1.955 Desa/Kota dan 924 Desa/kelurahan termasuk kategori miskin, Tiga Kabupaten
terbanyak yang memiliki desa miskin yaitu Kabupaten Sanggau 103 Desa/Kelurahan,
Kabupaten Sambas 84 Desa/Kelurahan dan Kabupaten Bengkayang 80
Desa/Kelurahan merupakan daerah perbatatasan dengan Negara tetangga Malaysia.
Untuk tahun 2010 penduduk Kalimantan Barat Berjumlah 4.393.239 jiwa dengan
penduduk miskin berjumlah 428.759 jiwa atau 9,0% atau terjadi penurunan apabila
dibandingkan dengan tahun 2009.
Sebagai Darerah yang berbatasan langsung dengan
Negara tetangga Malaysia, kemiskinan di Kalimantan Barat terlihat sangat
kontras sekali, dimana Negara Malaysia terlihat lebih makmur dan maju,
sedangkan di Kalimantan Barat terlihat sangat miskin, sehingga bisa mengganggu
kestabilan berbangsa dan bernegara. Sebagai contoh di Perbatasan Kabupaten
Sintang mereka ada yang mengibarkan bendera Malaysia saat peringatan hari
kemerdekaan kita. Apa bila kemiskinan ini dibiarkan maka bukan hal yang tidak
mungkin suatu saat akan membelot kenegara lain.
Berbicara kemiskinan di Kalimantan Barat tidak
terlepas dari harkat dan martabat bangsa ini sendiri, karena di beberapa daerah
Kalimantan Barat berbatasan langsung dengan Negara tetangga, ada yang
berkeinginan bergabung dengan Negara tetangga, karena Negara tetangga jauh
lebih sejahtera dari pada Negara kita yang bisa mengancam dis integrasi bangsa,
disamping miskin juga sangat terbatas akses transportasi, pendidikan dan
kesehatan.
Keterbatasan akses dan mutu pelayanan kesehatan
hal ini dikarenakan sarana kesehatan umumnya dibangun hanya sampai wilayah
kecamatan, dengan sarana dan prasarana yang serta sumber daya manusia yang
sangat terbatas. Keterbatasan akses dan mutu pendidikan dipedesaan menjadikan
pendidikan merupakan hal yang tidak penting. Mereka berfikir dengan bisa
membantu berladang maka akan terpenuhi kebutuhan hidupnya, karena di desa masih
banyak menyedikan lahan yang cukup untuk bertani dan berkebun.
Minimnya akses Transportasi, pendidikan dan
kesehatan tersebut diatas jelas akan menyebabkan kemiskinan di pedesaan. Dengan
berbagai keterbatasan tersebut maka penduduk desa bekerja untuk mendapatkan
hasil yang sangat terbatas walau sudah berusaha maksimal. Disamping itu apabila
banyaknya hasil komoditi di desa tersebut tidak bisa digunakan secara maksimal
yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa tersebut, sehingga tidak dapat
memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Bagi Penduduk yang merasa kaya di desa mereka
akan meninggalkan desa dan pindah diperkotaan untuk mendapatkan berbagai akses
pembangunan yang bisa di dapatkan di perkotaan. Akibatnya Penduduk yang tinggal
di desa akan tetap menjadi miskin dan tertinggal dari segi ekonomi.
Selain itu tradisi di desa apa bila sudah
selesai panen raya mereka mengadakan pesta sehingga tradisi ini tidak bisa
meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat. Sehingga panen yang mereka
menerima terima seharusnya bisa digunakan untuk sampai dengan musim panen
berikutnya ternyata menjadi tidak cukup karena untuk pesta tersebut.
1.
1. Pengertian kemiskinan
Miskin adalah suatu keadaan seseorang yang
mengalami kekurangan atau tidak mampu memenuhi tingkat hidup yang paling rendah
serta tidak mampu mencapai tingkat minimal dari tujuan‑tujuan yang telah
ditetapkan. Tujuan tersebut dapat berupa konsumsi, kebebasan, hak
mendapatkan sesuatu, menikmati hidup dan lain‑lain (Husen, 1993).
Menurut De Vos kemiskinan adalah suatu keadaan
dimana seseorang tidak mampu mencapai salah satu tujuannya atau lebih, tujuan‑tujuan
yang dimaksud di sini tentunya dapat diinterpretasikan sesuai persepsi
seseorang. Dengan demikian, kemiskinan dapat diartikan berdasarkan kondisi
seseorang dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan (Suparta, 2003).
Di lain pihak Friedmann (1979), mendefinisikan
kemiskinan sebagai ketidaksamaan kesempatan untuk mengakumulasikan basis
kekuatan sosial. Basis kekuatan sosial meliputi modal yang produktif atau asset
(misalnya, tanah, perumahan, peralatan, kesehatan dan lain‑lain); sumber‑sumber
keuangan (income dan kredit yang memadai); organisasi sosial dan
politik yang dapat digunakan untuk mencapai kepentingan bersama (partai
politik, sindikat, koperasi dan lain‑lain); jaringan sosial untukmemperoleh
pekerjaan, barang‑barang dan lain‑lain; pengetahuan dan keterampilan yang
memadai; dan informasi yang berguna untuk memajukan kehidupan anda.
De Vos (1991) juga memberikan pengertian
kemiskinan berdasarkan beberapa pendekatan, yaitu batasan secara absolut dan
batasan relatif. Kemiskinan secara absolut memberikan pengertian keadaan
seseorang dalam pemenuhan kebutuhan minimum untuk hidup tanpa melihat kondisi
lingkungan masyarakat. Sedangkan pengertian kemiskinan relatif
memberikan pengertian keadaan seseorang bila dibandingkan dengan kondisi
masyarakatnya sering berpindah‑pindah lapangan pekerjaan dan sebahagian besar
pendapatannya.
Dari segi sosial, kemiskinan penduduk
dapat juga disebutkan sebagai suatu kondisi sosial yang sangat
rendah, seperti penyediaan fasilitas kesehatan yang tidak mencukupi dan
penerangan yang minim (Sumardi dan Dieter, 1985). Kondisi sosial lain dari
penduduk miskin biasanya dicirikan oleh keadaan rumah tangga dimana jumlah
anggota keluarga banyak, tingkat pendidikan kepala rumah tangga dan anggota
rumah tangga rendah, dan umumnya rumah tersebut berada di pedesaan (BPS, 2002).
Dari segi ekonomi, rumah tangga miskin dicirikan
oleh jenis mata pencaharian pada sektor informal di pedesaan maupun di
perkotaan, sering berpindah-pindah mata pencaharian dari produktivitas yang
rendah sehingga menyebabkan pendapatan yang rendah. Karakteristik lain dari
rumah tangga miskin adalah kecenderungan untuk menyediakan sebagian besar dari
anggaran rumah untuk memenuhi kebutuhan pangan. Alokasi pendapatan yang
cenderung hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan merupakan cerminan adanya
kemiskinan rumah tangga (Hasbullah, 1983).
Sekurang‑kurangnya ada dua pendekatan untuk
memberikan pengertian tentang kemiskinan. Pertama adalah
pendekatan absolut yang menekankan pada pemenuhan kebutuhan fisik minimum,
tolok ukur yang dipakai adalah kebutuhan minimal yang harus dipenuhi oleh
seseorang atau keluarga agar dapat melangsungkan hidupnya pada taraf yang
layak.
Pendekatan kedua adalah
pendekatan relatif dimana kemiskinan ditentukan berdasarkan taraf hidupnya
relatif dalam masyarakat (Suparlan, 1984). Secara konsepsional, kemiskinan
dirumuskan sebagai suatu kondisi hidup yang serba kekurangan dalam pemenuhan
kebutuhan dasar manusia. Secara operasional kriteria kemiskinan itu
ditetapkan dengan tolok ukur garis kemiskinan. Penduduk miskin adalah golongan
masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan, sedangkan target pembangunan
biasanya dirumuskan sebagai upaya mengentaskan golongan masyarakat miskin agar
mereka bisa berada di atas garis kemiskinan tersebut.
Mubyarto (1990) mengungkapkan bahwa kemiskinan
adalah manifestasi dari keadaan keterbelakangan masyarakat, dimana melalui
upaya‑upaya pendidikan dan modernisasi, kemiskinan dan keterbelakangan akan
berkurang. Selanjutnya menurut Esmara (1979), yang dimaksud dengan tingkat kemelaratan
absolut lebih banyak ditujukan terhadap tingkat kehidupan penduduk secara
absolut, baik yang diukur dengan pemakaian kalori, tingkat gizi, sandang,
sanitasi, pendidikan, dan sebagainya.
Esmara menyimpulkan, bahwa dalam menentukan
garis kemelaratan perlu ditentukan suatu kebutuhan minimum yang memungkinkan
orang hidup dengan layak. Menurutnya, memang sukar menentukan batas kelayakan
jumlah pendapatan, pengeluaran konsumsi, kebutuhan kalori, dan sebagainya yang
dapat digunakan sebagai titik tolak perhitungan. Esmara menyebutkan batas
kebutuhan minimum tersebut sebagai “garis kemiskinan”. Batas tersebut juga
biasa disebut dengan “garis kemiskinan” (Mubyarto,1990).
1.
2. Pengertian Desa/Pedesaan
Yang dimaksud dengan desa menurut Sutardjo
Kartohadikusuma mengemukakan sebagai berikut :
Desa adalah suatu kesatuan hukum di mana
bertempat tinggal suatu masyarakat pemerintahan sendiri. Menurut
Bintarto desa merupakan perwujudan atau kesatuan geografi, sosial, ekonomi,
politik dan kultural yang terdapat di situ (suatu daerah) dalam hubungannya dan
pengaruhnya secara timbal-balik dengan daerah lain. Sedangkan
menurut Paul H. Landis : Desa adalah penduduknya kurang dari 2.500 jiwa, dengan
ciri-cirinya sebagai berikut :
a) Mempunyai pergaulan hidup yang saling
kenal mengenal antara ribuan jiwa.
b) Ada pertalian perasaan yang sama
tentang kesukaan terhadap kebiasaan.
c) Cara berusaha (ekonomi) adalah
agraris yang paling umum yang sangat dipengaruhi alam seperti : iklim, keadaan
alam, kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris adalah bersifat
sambilan.
Masyarakat pedesaan ditandai dengan pemilikan
ikatan perasaan batin yang kuat sesama warga desa, yaitu perasaan setiap
warga/anggota masyarakat yang amat kuat yang hakikatnya, bahwa seseorang merasa
merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat di mana is hidup
dicintainya serta mempunyai perasaan bersedia untuk berkorban setiap waktu demi
masyarakatnya atau anggota-anggota masyarakat, karena beranggapan sama¬sama
sebagai anggota masyarakat yang saling mencintai saling menghormati, mempunyai
hak tanggung jawab yang sama terhadap keselamatan dan kebahagian bersama di
dalam masyarakat. Adapun yang menjadi ciri-ciri masyarakat pedesaan
antara lain sebagai berikut :
a) Di dalam masyarakat pedesaan di antara
warganya mempunyai hubungan yang lebih mendalam dan erat bila dibandingkan
dengan masyarakat pedesaan lainnya di luar batas-batas wilayahnya;
b) Sistem kehidupan umumnya berkelompok dengan
dasar kekeluargaan (Gemeinschaft atau paguyuban).
c) Sebagian besar warga masyarakat pedesaan
hidup dari pertanian. Pekerjaan-pekerjaan yang bukan pertanian merupakan
pekerjaan sambilan (part time) yang biasanya sebagai pengisi waktu luang.
d) Masyarakat tersebut homogen, seperti dalam
hal mata pencarian, agama, adat-istiadat dan sebagainya.
Oleh karena anggota masyarakat mempunyai
kepentingan pokok yang hampir sama, maka mereka selalu bekerja sama untuk
mencapai kepentingan-kepentingan mereka. Seperti pada waktu mendirikan rumah,
upacara pesta perkawinan, memperbaiki jalan desa, membuat saluran air dan
sebagainya, dalam hal-hal tersebut mereka akan selalu bekerjasama.
Bentuk-bentuk kerjasama dalam masyarakat sering
diistilahkan dengan gotong royong dan tolong-menolong.
Pekerjaan gotong-royong pada waktu sekarang
lebih populer dengan istilah kerja bakti misalnya memperbaiki jalan, saluran
air, menjaga keamanan desa (ronda malam) dan sebagainya.
Sedang mengenai macamnya pekerjaan gotong-royong
(kerja bakti) itu ada dua macam, yaitu :
a) Kerja bersama untuk pekerjaan-pekerjaan yang
timbulnya dari inisiatif warga masyarakat itu sendiri (biasanya diistilahkan
dari bawah).
b) Kerjasama untuk pekerjaan-pekerjaan
yang inisiatifnya tidak timbul dari masyarakat itu sendiri berasal dari luar
(biasanya berasal dari atas).
Kerjasama jenis pertama biasanya, sungguh-sungguh dirasakan kegunaannya bagi
mereka, sedang jenis kedua biasanya sering kurang dipahami kegunaannya.
Dalam buku Sosiologi karangan Ruman Sumadilaga
seorang ahli Sosiologi “Talcot Parsons” menggambarkan masyarakat desa sebagai
masyarakat tradisional (Gemeinschaft) yang mebngenal ciri-ciri sebagai berikut
:
a. Afektifitas ada hubungannya dengan perasaan
kasih sayang, cinta , kesetiaan dan kemesraan. Perwujudannya dalam sikap dan
perbuatan tolong menolong, menyatakan simpati terhadap musibah yang diderita
orang lain dan menolongnya tanpa pamrih.
b. Orientasi kolektif sifat ini merupakan
konsekuensi dari Afektifitas, yaitu mereka mementingkan kebersamaan , tidak
suka menonjolkan diri, tidak suka akan orang yang berbeda pendapat, intinya
semua harus memperlihatkan keseragaman persamaan.
c. Partikularisme pada dasarnya adalah semua hal
yang ada hubungannya dengan keberlakuan khusus untuk suatu tempat atau daerah
tertentu. Perasaan subyektif, perasaan kebersamaan sesungguhnya yang hanya
berlaku untuk kelompok tertentu saja.(lawannya Universalisme)
d. Askripsi yaitu berhubungan dengan mutu atau
sifat khusus yang tidak diperoleh berdasarkan suatu usaha yang tidak disengaja,
tetapi merupakan suatu keadaan yang sudah merupakan kebiasaan atau
keturunan.(lawanya prestasi).
e. Kekabaran (diffuseness). Sesuatu yang tidak
jelas terutama dalam hubungan antara pribadi tanpa ketegasan yang dinyatakan
eksplisit. Masyarakat desa menggunakan bahasa tidak langsung, untuk menunjukkan
sesuatu. Dari uraian tersebut (pendapat Talcott Parson) dapat terlihat pada
desa-desa yang masih murni masyarakatnya tanpa pengaruh dari luar.
1.
3. Permasalahan di Pedesaan
Pada umumnya msyarakat pedesaan pengalami
beberapa permsalahan di Desa adalah:
1.
Masalah insfrastruktur yang kurang mendukung, seperti jalan yang
berbatu atau becek apa bila hujan, dan berdebu apabila musim kemarau. Sarana
air bersih masih secara alami.
2.
Masalah Transportasi, karena sarana jalannya kurang mendukung maka
transportasi juga menjadi masalah, hal ini terasa sekali apabila warga desa aa
yang menderita sakit dan harus berobat ke rumah sakit yang biasanya ada
di perkotaan.
3.
Masalah Berkurangnya sumber daya alam, karena alam yang telah
menyediakan berbagai kebutuhan masyarakat tidak dipelihara bahkan cederung di
biarkan terlantar, sehingga tidak bisa menyediakan kebutuhan masyarakat desa.
4.
Masalah rusaknya lingkungan sekitarnya, sebagai akibat diekploitasi
dan tidak di jaga kelestariannya, maka lambat laun akan berkurang sumber daya
alamnya.
5.
Masalah komunikasi, Di pedesaan pada umumnya sarana komunikasi
juga minim, akibatnya warga desa akan kurang bisa berkembang karena sulit untuk
dapat mengakses Informasi dari luar pedesaan.
6.
Masalah Tanah, juga biasanya bisa menjadi permasalahan, karena
mereka rata-rata enggan untuk mengurus tanahnya secara resmi, seperti mengurus
sertifikat kepemilikan yang legal.
7.
Masalah kesehatan di pedesaan terasa masih rendah, apabila ada
sarana tempat berobat, biasanya hanya Pusksemas pembantu, dengan tenaga yang
sangat terbatas. Peran non medis lebih menonjol, karena dianggap lebih murah,
dan percaya bahwa penyakit disebabkan oleh alam sekitar.
8.
Masalah pendidikan sepertinya lebih menonjol di pedesaan, karena
disamping sarana pendidikan yang ada hanya sampai tingkat SD atau SMP, maka
orang-orang yang berpendidikan tinggi biasanya enggan untuk tinggal di Desa,
mereka lebih senang mencari pekerjaan di Kota.
9.
Masalah Sosial, sebagaian besar masyarakat Desa bisa dikatakan
belum sejahtera, karena berbagai keterbatasan tersebut diatas, apabila
masyarakat Desa di beri akses seperti masyarakat kota, mereka juga bisa lebih
sejahtera.
1.
B. Permasalahan
Berdasarkan uraian diatas dapat diketahui bahwa
pada umumnya di pedesaan masalah yang paling banyak dihadapi dan perlu adanya
pemecahan masalah adalah masalah insfrastruktur seperti jalanan yang berkibat
kurang lancarnya transportasi, karena dengan kurangnya transportasi maka komunikasi
tidak bisa berjalan dengan baik, demikian juga distribusi komoditi baik hasil
yang ada di desa maupun yang diperlukan didesa tidak menjadi lancar.
Kemiskinan wilayah desa dapat dilihat di beberapa daerah komunitas adat
terpencil, keterpencilan ini disebabkan karena belum tersedianya sarana
transportasi sebagai sarana utama. Misalnya di Desa Sekaih Kecamatan Ketungau
Hulu, Kabupaten Sintang, Desa Muhi Bersatu Kecamatan Suti Semarang Kabupaten
Bengkayang, Desa Krio Hulu Kecamatan Hulu sungai Kabupaten Ketapang, Desa
Senggoang Kecamatan Meranti, Kabupaten Landak dan lain-lain.
Berkurangnya sumber alam, sumber daya alam yang
selama ini dieskploitasi secara besar-besaran mengakibatkan berkurangnya sumber
daya alam tersebut. Akibatnya karena sumber daya terbatas, ditambah
keterampilan yang sangat minim, maka akan menjadikan masyarakat pedesaan
semakin miskin, Ekploitasi besar-besaran yang dilakukan oleh para Pemegang HPH,
membuktikan meninggalkan tanah gunduk karena hutannya ditebang habis. Dan
sekarang tanah-tanah pedesaan dikuasai oleh pengusaha perkebunan, sehingga
masyarakat pedesaan hanya sebagai “penonton” ditanahnya sendiri.
Rusaknya lingkungan sekitarnya yang disebabkan
oleh para penambang baik liar atau berizin. Begitu juga ekploitasi alam yang
besar-besaran untuk perkebunan sawit dapat merusak lingkungan sekitar.
Masalah kemiskinan di pedesaan disebabkan oleh,
terbatasnya cakupan pangan dan mutu pangan, hal ini dapat diketahui bahwa di
pedesaan pada umumnya bahan pangan diperoleh dan diolah dengan cara yang
sederhana yang berakibat rendahya mutu pangan, mereka lebih akrab dengan alam
yang telah menyediakan bahan pangan.
1.
C. Pembahasan Masalah dan Solusi
Permasalahan utama di pedesaan pada umumnya
adalah masalah transportasi, untuk pedesaan yang transportasinya sudah lancar
cenderung lebih maju, karena sumua kebutuhan dengan mudah bisa di dapatkan,
dengan biaya yang tidak terlalu tinggi. Hal ini dapat di lihat perekonomian
misalnya Daerah suangi ambawang yang dilalui jalan raya, terlihat perkembangan
masyarakatnya jauh lebih maju dari pada sebelum adanya jalan trans Kalimantan
tersebut. Kemajuan yang bisa kita lihat mereka rata-rata punya kendaraan bermotor,
warung banyak berdiri di sepanjang jalan, dibukanya tempat pencucian kendaraan
bermotor serta usaha-usaha jasa lainnya. Sehingga bisa menaikkan penghasilan
masyarakat di sepanjang jalan tersebut.
Seperti dikemukakan diatas, bahwa masih banyak
desa-desa yang terisolasi, sehingga mengalami keterpencilan dan
keterbelakangan. Untuk dapat mengatasi masalah kemiskinan di pedesaan maka
diperlukan hal-hal sebagai berikut :
1.
1. Masalah Keisolasian atau
masalah transportasi
Di pedesaan pada umumnya masalah transportasi
terutama jalan darat sangat minim sekali. Hal inilah faktor utama kenapa
masyarakat pedesaan cenderung miskin, Karena keterbatasan infomasi dan
komunikasi dengan daerah luar, Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja
diperlukan biaya yang cukup tinggi, Sedangkan apabila ada hasil komoditas yang
harus dijual juga memerlukan biaya tinggi akibatnya komoditas dihargai dengan
harga yang sangat rendah. Apa bila di sediakan jalan maka harga komoditas yang
dimiliki masyarakat harganya akan naik yang akan menambah kekayaan masyarakat
pedesaan yang pada akhirnya akan lepas dari kemiskinan.
Terbatasnya trasnportasi di pedesaan berakibat
lambatnya perputaran perekonomian di daerah pedesaan. Petugas dari kota yang
bisa mentransfer teknologi juga sangat jarang sekali, akibatnya kehidupan di
pedesaan terkesan monoton. Apabila ada jalan yang mudah dilalui ke desa
tersebut maka proses alih teknologi juga akan berjalan dengan cepat, sehingga
akan memacu perekonomian di pedesaan. Dengan sentuhan tehnologi tepat guna pertanian
maka cara bertani akan semakin berkembang yang pada gilirannya dapat
meningkatkan kesejahateraan masyarakat.
Solusi yang bisa ditempuh dalam mengatasi
permasalahan ini adalah antara Pemerintah, masyarakat dan Swasta (pelaku usaha)
perlu bersama-sama memecahkan permasalahan ini mengingat besarnya dana yang
digunakan untuk mengatasi keterisolasian tersebut, yaitu dengan cara sebagai
berikut :
1.
Pemerintah baik pemerintah pusat maupun daerah, secara
bersama-sama memfokuskan dalam mengatasi permasalahan insfrasruktur
keterisolasian atau masalah tansportasi, karena masalah transportasi adalah
masalah yang paling utama yang berkaitan dengan kemiskinan di pedesaan.
2.
Masyarakat desa bisa dengan cara bergotong-royong membangu jalan
guna membuka keterisolasian yang dikoordinir oleh pemerintah setempat,
mengingat masyarakat mempunyai sumber daya berupa sifat kegotong-royongan.
3.
Pelaku usaha dalam hal ini swasta yang bergerak di desa tersebut
dapat memberikan bantuan sebagai wujud pertanggungjawaban perusahaan dalam
program CSR.
1.
2. Kurangnya Sumber Daya Alam.
Berkurangannya Sumber daya alam yang ada di
masyakarat pedesaan disebabkan, masyarakat desa selalu mengambil hasil dari
alam tetapi tidak menjaga kelestariannya, alam yang tersedia terbatas dan
cenderung berkurang, sementara penduduk desa yang menggunakan cenderung
meningkat, akibatnya kebutuhan masyarakat yang bergantung pada alam semakin
berkurang, apabila dibiarkan terus menerus tanpa ada teknologi yang dapat
menciptakan nilai tambah maka kemiskinan di pedesaan akan semakin meluas.
Sumber daya alam yang berkurang seperti tersedianya air bersih, karena
penggunanya lebih banyak, juga sumber-sumber lain yang disediakan oleh alam.
Perusakan alam atara lain disebabkan pada saat
tertentu masyarakat desa menggunakan tuba untuk menangkap ikan, akibatnya
habitat ikan yang ada di sungai itu mati semuanya, dengan demikian maka sangat
nyata kerusakan alam oleh manusia, karena ketidak-pedulian dan mengharapkan
untung banyak dengan cara yang mudah.
Solusi untuk mempertahankan sumber daya alam,
maka penduduk pedesaan perlu di berikan sosialisasi akan pentingnya sumber daya
alam yang terbatas, serta bagaimana cara mempertahankan dan melestarikan sumber
daya alam yang sangat diperlukan dalam masyarakat pedesaan.
1.
3. Rusaknya lingkungan
sekitarnya
Rusaknya lingungan sekitar desa, khususnya di
daerah pedesaan yang kaya akan tambang, seperti emas, kerusakan lingkungan
sekitar ini disebabkan karena ekploitasi alam yang berlebihan baik penambang
tanpa izin (peti) atau penambangan liar, maupun penambangan yang berizin.
Penggunaan mercure yang berlebihan yang bisa mencemarkan sungai di sekitar
penambangan, disamping itu akan meninggalkan lingkungan yang rusak karena tidak
bisa digunakan untuk lahan pertanian, atau usaha lainya seperti perkebunan.
Solusi yang bisa di tempuh adalah memberikan
sosialisasi kepada masyarakat sekitar untuk menjaga lingkungan disamping juga
kepada penambang liar maupun berizin agar memperhatikan lingkungan hidup. Dalam
memberikan sosialisasi ini peran pemerintah cukup besar, disamping itu agar
dibuat aturan serta sanksi yang jelas dalam rangka mempertahankan kelestarian
lingkungan. Dengan adanya aturan dan sanksi yang yang jelas diharapkan aturan
ditaati bersama sehingga kelestarian alam tetap terjaga.
1.
D. Penutup.
1.
1. Kesimpulan
Kemiskinan dan permalasahan di pedesaan
adalah merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, karena sebagain besar
penduduk Indonesia yang miskin adalah yang tinggal di daerah pedesaan, adapun
yang menjadi permasalahan penyebab kemiskinan yang paling utama adalah :
1.
Masalah Keisolasian atau masalah transportasi, karena Terbatasnya
trasnportasi di pedesaan berakibat lambatnya perputaran perekonomian di daerah
pedesaan. Petugas dari kota yang bisa mentransfer teknologi juga sangat jarang
sekali, akibatnya kehidupan di pedesaan terkesan monoton.
2.
Masalah Kurangnya Sumber Daya Alam yang ada di masyakarat pedesaan
disebabkan, masyarakat desa selalu mengambil hasil dari alam tetapi tidak
menjaga kelestariannya, alam yang tersedia terbatas dan cenderung berkurang,
sementara penduduk desa yang menggunakan cenderung meningkat, akibatnya
kebutuhan masyarakat yang bergantung pada alam semakin berkurang.
3.
Masalah Rusaknya lingkungan sekitarnya, khususnya di daerah
pedesaan yang kaya akan tambang, seperti emas, kerusakan lingkungan sekitar ini
disebabkan karena ekploitasi alam yang berlebihan baik penambang tanpa izin
(peti) atau penambangan liar, maupun penambangan yang berizin.
4.
2. Solusi/Saran :
1.
Masalah Keisolasian/transportasi Solusi yang bisa ditempuh dalam
mengatasi permasalahan ini Pemerintah, masyarakat dan Swasta (pelaku usaha)
perlu bersama-sama memecahkan permasalahan ini mengingat besarnya dana yang
digunakan untuk mengatasi keterisolasian tersebut.
2.
Masalah Kurangnya Sumber Daya Alam solusinya adalah penduduk
pedesaan perlu di berikan sosialisasi akan pentingnya sumber daya alam yang
terbatas.
3.
Masalah Rusaknya lingkungan sekitarnya dengan Solusi yang bisa di
tempuh adalah memberikan sosialisasi kepada masyarakat sekitar untuk menjaga
lingkungan disamping juga kepada penambang liar. maupun berizin agar
memperhatikan lingkungan hidup
Masalah
Sosial di Lingkup Terkecil(pedesaan)
KEMISKINAN DAN
PERMASALAHAN DI PEDESAAN
1. A. Pendahuluan
Kerjasama jenis pertama biasanya, sungguh-sungguh dirasakan kegunaannya bagi mereka, sedang jenis kedua biasanya sering kurang dipahami kegunaannya.








