Rabu, 10 Februari 2016



Masalah Sosial di Lingkup Terkecil(pedesaan)
KEMISKINAN DAN PERMASALAHAN DI PEDESAAN

1.      A.    Pendahuluan
Masyarakat kita sebagain besar tinggal didaerah pedesaan, dan sebagian besar penduduknya hidup dalam kemiskinan. Penyebab kemiskinan masyarakat desa yaitu : Keisolasian wilayah, kekurangan sumber daya alam dan rusaknya lingkungan sekitarnya. Berdasarkan angka kemiskinan Kalimantan Barat tahun 2009 mencapai 9,3 % atau secara nasional menempati urutan ke 17. Provinsi Kalimantan Barat memiliki 1.955 Desa/Kota dan 924 Desa/kelurahan termasuk kategori miskin, Tiga Kabupaten terbanyak yang memiliki desa miskin yaitu Kabupaten Sanggau 103 Desa/Kelurahan, Kabupaten Sambas  84 Desa/Kelurahan dan Kabupaten Bengkayang 80 Desa/Kelurahan merupakan daerah perbatatasan dengan Negara tetangga Malaysia. Untuk tahun 2010 penduduk Kalimantan Barat Berjumlah 4.393.239 jiwa dengan penduduk miskin berjumlah 428.759 jiwa atau 9,0% atau terjadi penurunan apabila dibandingkan dengan tahun  2009.
Sebagai Darerah yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga Malaysia, kemiskinan di Kalimantan Barat terlihat sangat kontras sekali, dimana Negara Malaysia terlihat lebih makmur dan maju, sedangkan di Kalimantan Barat terlihat sangat miskin, sehingga bisa mengganggu kestabilan berbangsa dan bernegara. Sebagai contoh di Perbatasan Kabupaten Sintang mereka ada yang mengibarkan bendera Malaysia saat peringatan hari kemerdekaan kita. Apa bila kemiskinan ini dibiarkan maka bukan hal yang tidak mungkin suatu saat akan membelot kenegara lain.
Berbicara kemiskinan di Kalimantan Barat tidak terlepas dari harkat dan martabat bangsa ini sendiri, karena di beberapa daerah Kalimantan Barat berbatasan langsung dengan Negara tetangga, ada yang berkeinginan bergabung dengan Negara tetangga, karena Negara tetangga jauh lebih sejahtera dari pada Negara kita yang bisa mengancam dis integrasi bangsa, disamping miskin juga sangat terbatas akses transportasi, pendidikan dan kesehatan.
Keterbatasan akses dan mutu pelayanan kesehatan hal ini dikarenakan sarana kesehatan umumnya dibangun hanya sampai wilayah kecamatan, dengan sarana dan prasarana yang serta sumber daya manusia yang sangat terbatas. Keterbatasan akses dan mutu pendidikan dipedesaan menjadikan pendidikan merupakan hal yang tidak penting. Mereka berfikir dengan bisa membantu berladang maka akan terpenuhi kebutuhan hidupnya, karena di desa masih banyak menyedikan lahan yang cukup untuk bertani dan berkebun.
Minimnya akses Transportasi, pendidikan dan kesehatan tersebut diatas jelas akan menyebabkan kemiskinan di pedesaan. Dengan berbagai keterbatasan tersebut maka penduduk desa bekerja untuk mendapatkan hasil yang sangat terbatas walau sudah berusaha maksimal. Disamping itu apabila banyaknya hasil komoditi di desa tersebut tidak bisa digunakan secara maksimal yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa tersebut, sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Bagi Penduduk yang merasa kaya di desa mereka akan meninggalkan desa dan pindah diperkotaan untuk mendapatkan berbagai akses pembangunan yang bisa di dapatkan di perkotaan. Akibatnya Penduduk yang tinggal di desa akan tetap menjadi miskin dan tertinggal dari segi ekonomi.
Selain itu tradisi di desa apa bila sudah selesai panen raya mereka mengadakan pesta sehingga tradisi ini tidak bisa meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat. Sehingga panen yang mereka menerima terima seharusnya bisa digunakan untuk sampai dengan musim panen berikutnya ternyata menjadi tidak cukup karena untuk pesta tersebut.

1.      1.      Pengertian kemiskinan
Miskin adalah suatu keadaan seseorang yang mengalami kekurangan atau tidak mampu memenuhi tingkat hidup yang paling rendah serta tidak mampu mencapai tingkat minimal dari tujuan‑tujuan yang telah ditetapkan. Tujuan tersebut dapat berupa konsumsi, kebebasan, hak mendapatkan sesuatu, menikmati hidup dan lain‑lain (Husen, 1993).
Menurut De Vos kemiskinan adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak mampu mencapai salah satu tujuannya atau lebih, tujuan‑tujuan yang dimaksud di sini tentunya dapat diinterpretasikan sesuai persepsi seseorang. Dengan demikian, kemiskinan dapat diartikan berdasarkan kondisi seseorang dalam mencapai tujuan-­tujuan yang diinginkan (Suparta, 2003).
Di lain pihak Friedmann (1979), mendefinisikan kemiskinan sebagai ketidaksamaan kesempatan untuk mengakumulasikan basis kekuatan sosial. Basis kekuatan sosial meliputi modal yang produktif atau asset (misalnya, tanah, perumahan, peralatan, kesehatan dan lain‑lain); sumber‑sumber keuangan (income dan kredit yang memadai); organisasi sosial dan politik yang dapat digunakan untuk mencapai kepentingan bersama (partai politik, sindikat, kopera­si dan lain‑lain); jaringan sosial untukmemperoleh pekerjaan, barang‑barang dan lain‑lain; pengetahuan dan keterampilan yang memadai; dan informasi yang berguna untuk memajukan kehidupan anda.
De Vos (1991) juga memberikan pengertian kemiskinan berdasarkan be­berapa pendekatan, yaitu batasan secara absolut dan batasan relatif. Kemiskinan secara absolut memberikan pengertian keadaan seseorang dalam pemenuhan kebutuhan minimum untuk hidup tanpa melihat kondisi lingkungan masyarakat. Sedangkan pengertian kemiskinan relatif memberikan pengertian keadaan seseorang bila dibandingkan dengan kondisi masyarakatnya sering berpindah‑pindah lapangan pekerjaan dan sebahagian besar pendapatannya.
Dari segi sosial, kemiskinan penduduk dapat juga disebutkan sebagai suatu kondisi sosial yang sangat rendah, seperti penyediaan fasilitas kesehatan yang tidak mencukupi dan penerangan yang minim (Sumardi dan Dieter, 1985). Kondisi sosial lain dari penduduk miskin biasanya dicirikan oleh keadaan rumah tangga dimana jumlah anggota keluarga banyak, tingkat pendidikan kepala rumah tangga dan anggota rumah tangga rendah, dan umumnya rumah tersebut berada di pedesaan (BPS, 2002).
Dari segi ekonomi, rumah tangga miskin dicirikan oleh jenis mata pencaharian pada sektor informal di pedesaan maupun di perkotaan, sering berpindah-pindah mata pencaharian dari produktivitas yang rendah sehingga menyebabkan pendapatan yang rendah. Karakteristik lain dari rumah tangga miskin adalah kecenderungan untuk menyediakan sebagian besar dari anggaran rumah untuk memenuhi kebutuhan pangan. Alokasi pendapatan yang cenderung hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan merupakan cerminan adanya kemiskinan rumah tangga (Hasbullah, 1983).
Sekurang‑kurangnya ada dua pendekatan untuk memberikan pengertian tentang kemiskinan. Pertama adalah pendekatan absolut yang menekankan pada pemenuhan kebutuhan fisik minimum, tolok ukur yang dipakai adalah kebutuhan minimal yang harus dipenuhi oleh seseorang atau keluarga agar dapat melangsungkan hidupnya pada taraf yang layak.
Pendekatan kedua adalah pendekatan relatif dimana kemiskinan ditentukan berdasarkan taraf hidupnya relatif dalam masyarakat (Suparlan, 1984). Secara konsepsional, kemiskinan dirumuskan sebagai suatu kondisi hidup yang serba kekurangan dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Secara operasional kriteria kemiskinan itu ditetapkan dengan tolok ukur garis kemiskinan. Penduduk miskin adalah golongan masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan, sedangkan target pembangunan biasanya dirumuskan sebagai upaya mengentaskan golongan masyarakat miskin agar mereka bisa berada di atas garis kemiskinan tersebut.
Mubyarto (1990) mengungkapkan bahwa kemiskinan adalah manifestasi dari keadaan keterbelakangan masyarakat, dimana melalui upaya‑upaya pendidikan dan modernisasi, kemiskinan dan keterbelakangan akan berkurang. Selanjutnya menurut Esmara (1979), yang dimaksud dengan tingkat kemelaratan absolut lebih banyak ditujukan terhadap tingkat kehidupan penduduk secara absolut, baik yang diukur dengan pemakaian kalori, tingkat gizi, sandang, sanitasi, pendidikan, dan sebagainya.
Esmara menyimpulkan, bahwa dalam menentukan garis kemelaratan perlu ditentukan suatu kebutuhan minimum yang memungkinkan orang hidup dengan layak. Menurutnya, memang sukar menentukan batas kelayakan jumlah pendapatan, pengeluaran konsumsi, kebutuhan kalori, dan sebagainya yang dapat digunakan sebagai titik tolak perhitungan. Esmara menyebutkan batas kebutuhan minimum tersebut sebagai “garis kemiskinan”. Batas tersebut juga biasa disebut dengan “garis kemiskinan” (Mubyarto,1990).
1.      2.      Pengertian Desa/Pedesaan
Yang dimaksud dengan desa menurut Sutardjo Kartohadikusuma mengemukakan sebagai berikut :
Desa adalah suatu kesatuan hukum di mana bertempat tinggal suatu masyarakat pemerintahan sendiri. Menurut Bintarto desa merupakan perwujudan atau kesatuan geografi, sosial, ekonomi, politik dan kultural yang terdapat di situ (suatu daerah) dalam hubungannya dan pengaruhnya secara timbal-balik dengan daerah lain. Sedangkan menurut Paul H. Landis : Desa adalah penduduknya kurang dari 2.500 jiwa, dengan ciri-cirinya sebagai berikut :
a)  Mempunyai pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antara ribuan jiwa.
b)    Ada pertalian perasaan yang sama tentang kesukaan terhadap kebiasaan.
c)    Cara berusaha (ekonomi) adalah agraris yang paling umum yang sangat dipengaruhi alam seperti : iklim, keadaan alam, kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris adalah bersifat sambilan.
Masyarakat pedesaan ditandai dengan pemilikan ikatan perasaan batin yang kuat sesama warga desa, yaitu perasaan setiap warga/anggota masyarakat yang amat kuat yang hakikatnya, bahwa seseorang merasa merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat di mana is hidup dicintainya serta mempunyai perasaan bersedia untuk berkorban setiap waktu demi masyarakatnya atau anggota-anggota masyarakat, karena beranggapan sama¬sama sebagai anggota masyarakat yang saling mencintai saling menghormati, mempunyai hak tanggung jawab yang sama terhadap keselamatan dan kebahagian bersama di dalam masyarakat. Adapun yang menjadi ciri-ciri masyarakat pedesaan antara lain sebagai berikut :
a) Di dalam masyarakat pedesaan di antara warganya mempunyai hubungan yang lebih mendalam dan erat bila dibandingkan dengan masyarakat pedesaan lainnya di luar batas-batas wilayahnya;
b) Sistem kehidupan umumnya berkelompok dengan dasar kekeluargaan (Gemeinschaft atau paguyuban).
c) Sebagian besar warga masyarakat pedesaan hidup dari pertanian. Pekerjaan-pekerjaan yang bukan pertanian merupakan pekerjaan sambilan (part time) yang biasanya sebagai pengisi waktu luang.
d) Masyarakat tersebut homogen, seperti dalam hal mata pencarian, agama, adat-istiadat dan sebagainya.
Oleh karena anggota masyarakat mempunyai kepentingan pokok yang hampir sama, maka mereka selalu bekerja sama untuk mencapai kepentingan-kepentingan mereka. Seperti pada waktu mendirikan rumah, upacara pesta perkawinan, memperbaiki jalan desa, membuat saluran air dan sebagainya, dalam hal-hal tersebut mereka akan selalu bekerjasama.
Bentuk-bentuk kerjasama dalam masyarakat sering diistilahkan dengan gotong royong dan tolong-menolong.
Pekerjaan gotong-royong pada waktu sekarang lebih populer dengan istilah kerja bakti misalnya memperbaiki jalan, saluran air, menjaga keamanan desa (ronda malam) dan sebagainya.
Sedang mengenai macamnya pekerjaan gotong-royong (kerja bakti) itu ada dua macam, yaitu :
a) Kerja bersama untuk pekerjaan-pekerjaan yang timbulnya dari inisiatif warga masyarakat itu sendiri (biasanya diistilahkan dari bawah).
b)  Kerjasama untuk pekerjaan-pekerjaan yang inisiatifnya tidak timbul dari masyarakat itu sendiri berasal dari luar (biasanya berasal dari atas).
Kerjasama jenis pertama biasanya, sungguh-sungguh dirasakan kegunaannya bagi mereka, sedang jenis kedua biasanya sering kurang dipahami kegunaannya.
Dalam buku Sosiologi karangan Ruman Sumadilaga seorang ahli Sosiologi “Talcot Parsons” menggambarkan masyarakat desa sebagai masyarakat tradisional (Gemeinschaft) yang mebngenal ciri-ciri sebagai berikut :
a. Afektifitas ada hubungannya dengan perasaan kasih sayang, cinta , kesetiaan dan kemesraan. Perwujudannya dalam sikap dan perbuatan tolong menolong, menyatakan simpati terhadap musibah yang diderita orang lain dan menolongnya tanpa pamrih.
b. Orientasi kolektif sifat ini merupakan konsekuensi dari Afektifitas, yaitu mereka mementingkan kebersamaan , tidak suka menonjolkan diri, tidak suka akan orang yang berbeda pendapat, intinya semua harus memperlihatkan keseragaman persamaan.
c. Partikularisme pada dasarnya adalah semua hal yang ada hubungannya dengan keberlakuan khusus untuk suatu tempat atau daerah tertentu. Perasaan subyektif, perasaan kebersamaan sesungguhnya yang hanya berlaku untuk kelompok tertentu saja.(lawannya Universalisme)
d. Askripsi yaitu berhubungan dengan mutu atau sifat khusus yang tidak diperoleh berdasarkan suatu usaha yang tidak disengaja, tetapi merupakan suatu keadaan yang sudah merupakan kebiasaan atau keturunan.(lawanya prestasi).
e. Kekabaran (diffuseness). Sesuatu yang tidak jelas terutama dalam hubungan antara pribadi tanpa ketegasan yang dinyatakan eksplisit. Masyarakat desa menggunakan bahasa tidak langsung, untuk menunjukkan sesuatu. Dari uraian tersebut (pendapat Talcott Parson) dapat terlihat pada desa-desa yang masih murni masyarakatnya tanpa pengaruh dari luar.

1.      3.      Permasalahan di Pedesaan
Pada umumnya msyarakat pedesaan pengalami beberapa permsalahan di Desa adalah:
1.      Masalah insfrastruktur yang kurang mendukung, seperti jalan yang berbatu atau becek apa bila hujan, dan berdebu apabila musim kemarau. Sarana air bersih masih secara alami.
2.      Masalah Transportasi, karena sarana jalannya kurang mendukung maka transportasi juga menjadi masalah, hal ini terasa sekali apabila warga desa aa yang menderita sakit dan harus berobat ke rumah sakit yang  biasanya ada di perkotaan.
3.      Masalah Berkurangnya sumber daya alam, karena alam yang telah menyediakan berbagai kebutuhan masyarakat tidak dipelihara bahkan cederung di biarkan terlantar, sehingga tidak bisa menyediakan kebutuhan masyarakat desa.
4.      Masalah rusaknya lingkungan sekitarnya, sebagai akibat diekploitasi dan tidak di jaga kelestariannya, maka lambat laun akan berkurang sumber daya alamnya.
5.      Masalah komunikasi, Di pedesaan pada umumnya sarana komunikasi juga minim, akibatnya warga desa akan kurang bisa berkembang karena sulit untuk dapat mengakses Informasi dari luar pedesaan.
6.      Masalah Tanah, juga biasanya bisa menjadi permasalahan, karena mereka rata-rata enggan untuk mengurus tanahnya secara resmi, seperti mengurus sertifikat kepemilikan yang legal.
7.      Masalah kesehatan di pedesaan terasa masih rendah, apabila ada sarana tempat berobat, biasanya hanya Pusksemas pembantu, dengan tenaga yang sangat terbatas. Peran non medis lebih menonjol, karena dianggap lebih murah, dan percaya bahwa penyakit disebabkan oleh alam sekitar.
8.      Masalah pendidikan sepertinya lebih menonjol di pedesaan, karena disamping sarana pendidikan yang ada hanya sampai tingkat SD atau SMP, maka orang-orang yang berpendidikan tinggi biasanya enggan untuk tinggal di Desa, mereka lebih senang mencari pekerjaan di Kota.
9.      Masalah Sosial, sebagaian besar masyarakat Desa bisa dikatakan belum sejahtera, karena berbagai keterbatasan tersebut diatas, apabila masyarakat Desa di beri akses seperti masyarakat kota, mereka juga bisa lebih sejahtera.







1.      B.     Permasalahan
Berdasarkan uraian diatas dapat diketahui bahwa pada umumnya di pedesaan masalah yang paling banyak dihadapi dan perlu adanya pemecahan masalah adalah masalah insfrastruktur seperti jalanan yang berkibat kurang lancarnya transportasi, karena dengan kurangnya transportasi maka komunikasi tidak bisa berjalan dengan baik, demikian juga distribusi komoditi baik hasil yang ada di desa maupun yang diperlukan didesa tidak  menjadi lancar. Kemiskinan wilayah desa dapat dilihat di beberapa daerah komunitas adat terpencil, keterpencilan ini disebabkan karena belum tersedianya sarana transportasi sebagai sarana utama. Misalnya di Desa Sekaih Kecamatan Ketungau Hulu, Kabupaten Sintang, Desa Muhi Bersatu Kecamatan Suti Semarang Kabupaten Bengkayang, Desa Krio Hulu Kecamatan Hulu sungai Kabupaten Ketapang, Desa Senggoang Kecamatan Meranti, Kabupaten Landak dan lain-lain.
Berkurangnya sumber alam, sumber daya alam yang selama ini dieskploitasi secara besar-besaran mengakibatkan berkurangnya sumber daya alam tersebut. Akibatnya karena sumber daya terbatas, ditambah keterampilan yang sangat minim, maka akan menjadikan masyarakat pedesaan semakin miskin, Ekploitasi besar-besaran yang dilakukan oleh para Pemegang HPH, membuktikan meninggalkan tanah gunduk karena hutannya ditebang habis. Dan sekarang tanah-tanah pedesaan dikuasai oleh pengusaha perkebunan, sehingga masyarakat pedesaan hanya sebagai “penonton” ditanahnya sendiri.
Rusaknya lingkungan sekitarnya yang disebabkan oleh para penambang baik liar atau berizin. Begitu juga ekploitasi alam yang besar-besaran untuk perkebunan sawit dapat merusak lingkungan sekitar.
Masalah kemiskinan di pedesaan disebabkan oleh, terbatasnya cakupan pangan dan mutu pangan, hal ini dapat diketahui bahwa di pedesaan pada umumnya bahan pangan diperoleh dan diolah dengan cara yang sederhana yang berakibat rendahya mutu pangan, mereka lebih akrab dengan alam yang telah menyediakan bahan pangan.

1.      C.    Pembahasan Masalah dan Solusi
Permasalahan utama di pedesaan pada umumnya adalah masalah transportasi, untuk pedesaan yang transportasinya sudah lancar cenderung lebih maju, karena sumua kebutuhan dengan mudah bisa di dapatkan, dengan biaya yang tidak terlalu tinggi. Hal ini dapat di lihat perekonomian misalnya Daerah suangi ambawang yang dilalui jalan raya, terlihat perkembangan masyarakatnya jauh lebih maju dari pada sebelum adanya jalan trans Kalimantan tersebut. Kemajuan yang bisa kita lihat mereka rata-rata punya kendaraan bermotor, warung banyak berdiri di sepanjang jalan, dibukanya tempat pencucian kendaraan bermotor serta usaha-usaha jasa lainnya. Sehingga bisa menaikkan penghasilan masyarakat di sepanjang jalan tersebut.
Seperti dikemukakan diatas, bahwa masih banyak desa-desa yang terisolasi, sehingga mengalami keterpencilan dan keterbelakangan. Untuk dapat mengatasi masalah kemiskinan di pedesaan maka diperlukan hal-hal sebagai berikut :

1.      1.      Masalah Keisolasian atau masalah transportasi
Di pedesaan pada umumnya masalah transportasi terutama jalan darat sangat minim sekali. Hal inilah faktor utama kenapa masyarakat pedesaan cenderung miskin, Karena keterbatasan infomasi dan komunikasi dengan daerah luar, Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja diperlukan biaya yang cukup tinggi, Sedangkan apabila ada hasil komoditas yang harus dijual juga memerlukan biaya tinggi akibatnya komoditas dihargai dengan harga yang sangat rendah. Apa bila di sediakan jalan maka harga komoditas yang dimiliki masyarakat harganya akan naik yang akan menambah kekayaan masyarakat pedesaan yang pada akhirnya akan lepas dari kemiskinan.
Terbatasnya trasnportasi di pedesaan berakibat lambatnya perputaran perekonomian di daerah pedesaan. Petugas dari kota yang bisa mentransfer teknologi juga sangat jarang sekali, akibatnya kehidupan di pedesaan terkesan monoton. Apabila ada jalan yang mudah dilalui ke desa tersebut maka proses alih teknologi juga akan berjalan dengan cepat, sehingga akan memacu perekonomian di pedesaan. Dengan sentuhan tehnologi tepat guna pertanian maka cara bertani akan semakin berkembang yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahateraan masyarakat.
Solusi yang bisa ditempuh dalam mengatasi permasalahan ini adalah antara Pemerintah, masyarakat dan Swasta (pelaku usaha) perlu bersama-sama memecahkan permasalahan ini mengingat besarnya dana yang digunakan untuk mengatasi keterisolasian tersebut, yaitu dengan cara sebagai berikut :
1.      Pemerintah baik pemerintah pusat maupun daerah, secara bersama-sama memfokuskan dalam mengatasi permasalahan insfrasruktur keterisolasian atau masalah tansportasi, karena masalah transportasi adalah masalah yang paling utama yang berkaitan dengan kemiskinan di pedesaan.
2.      Masyarakat desa bisa dengan cara bergotong-royong membangu jalan guna membuka keterisolasian yang dikoordinir oleh pemerintah setempat, mengingat masyarakat mempunyai sumber daya berupa sifat kegotong-royongan.
3.      Pelaku usaha dalam hal ini swasta yang bergerak di desa tersebut dapat memberikan bantuan sebagai wujud pertanggungjawaban perusahaan dalam program CSR.

1.      2.      Kurangnya Sumber Daya Alam.
Berkurangannya Sumber daya alam yang ada di masyakarat pedesaan disebabkan, masyarakat desa selalu mengambil hasil dari alam tetapi tidak menjaga kelestariannya, alam yang tersedia terbatas dan cenderung berkurang, sementara penduduk desa yang menggunakan cenderung meningkat, akibatnya kebutuhan masyarakat yang bergantung pada alam semakin berkurang, apabila dibiarkan terus menerus tanpa ada teknologi yang dapat menciptakan nilai tambah maka kemiskinan di pedesaan akan semakin meluas. Sumber daya alam yang berkurang seperti tersedianya air bersih, karena penggunanya lebih banyak, juga sumber-sumber lain yang disediakan oleh alam.
Perusakan alam atara lain disebabkan pada saat tertentu masyarakat desa menggunakan tuba untuk menangkap ikan, akibatnya habitat ikan yang ada di sungai itu mati semuanya, dengan demikian maka sangat nyata kerusakan alam oleh manusia, karena ketidak-pedulian dan mengharapkan untung banyak dengan cara yang mudah.
Solusi untuk mempertahankan sumber daya alam, maka penduduk pedesaan perlu di berikan sosialisasi akan pentingnya sumber daya alam yang terbatas, serta bagaimana cara mempertahankan dan melestarikan sumber daya alam yang sangat diperlukan dalam masyarakat pedesaan.

1.      3.      Rusaknya lingkungan sekitarnya
Rusaknya lingungan sekitar desa, khususnya di daerah pedesaan yang kaya akan tambang, seperti emas, kerusakan lingkungan sekitar ini disebabkan karena ekploitasi alam yang berlebihan baik penambang tanpa izin (peti) atau penambangan liar, maupun penambangan yang berizin. Penggunaan mercure yang berlebihan yang bisa mencemarkan sungai di sekitar penambangan, disamping itu akan meninggalkan lingkungan yang rusak karena tidak bisa digunakan untuk lahan pertanian, atau usaha lainya seperti perkebunan.
Solusi yang bisa di tempuh adalah memberikan sosialisasi kepada masyarakat sekitar untuk menjaga lingkungan disamping juga kepada penambang liar maupun berizin agar memperhatikan lingkungan hidup. Dalam memberikan sosialisasi ini peran pemerintah cukup besar, disamping itu agar dibuat aturan serta sanksi yang jelas dalam rangka mempertahankan kelestarian lingkungan. Dengan adanya aturan dan sanksi yang yang jelas diharapkan aturan ditaati bersama sehingga kelestarian alam tetap terjaga.


1.      D.    Penutup.
1.      1.      Kesimpulan
Kemiskinan  dan permalasahan di pedesaan adalah merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, karena sebagain besar penduduk Indonesia yang miskin adalah yang tinggal di daerah pedesaan, adapun yang menjadi permasalahan penyebab kemiskinan yang paling utama adalah :
1.      Masalah Keisolasian atau masalah transportasi, karena Terbatasnya trasnportasi di pedesaan berakibat lambatnya perputaran perekonomian di daerah pedesaan. Petugas dari kota yang bisa mentransfer teknologi juga sangat jarang sekali, akibatnya kehidupan di pedesaan terkesan monoton.
2.      Masalah Kurangnya Sumber Daya Alam yang ada di masyakarat pedesaan disebabkan, masyarakat desa selalu mengambil hasil dari alam tetapi tidak menjaga kelestariannya, alam yang tersedia terbatas dan cenderung berkurang, sementara penduduk desa yang menggunakan cenderung meningkat, akibatnya kebutuhan masyarakat yang bergantung pada alam semakin berkurang.
3.      Masalah Rusaknya lingkungan sekitarnya, khususnya di daerah pedesaan yang kaya akan tambang, seperti emas, kerusakan lingkungan sekitar ini disebabkan karena ekploitasi alam yang berlebihan baik penambang tanpa izin (peti) atau penambangan liar, maupun penambangan yang berizin.
4.      2.      Solusi/Saran :
1.      Masalah Keisolasian/transportasi Solusi yang bisa ditempuh dalam mengatasi permasalahan ini Pemerintah, masyarakat dan Swasta (pelaku usaha) perlu bersama-sama memecahkan permasalahan ini mengingat besarnya dana yang digunakan untuk mengatasi keterisolasian tersebut.
2.      Masalah Kurangnya Sumber Daya Alam solusinya adalah penduduk pedesaan perlu di berikan sosialisasi akan pentingnya sumber daya alam yang terbatas.
3.      Masalah Rusaknya lingkungan sekitarnya dengan Solusi yang bisa di tempuh adalah memberikan sosialisasi kepada masyarakat sekitar untuk menjaga lingkungan disamping juga kepada penambang liar. maupun berizin agar memperhatikan lingkungan hidup




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tugas Softskill

Quantum Computation TUGAS SOFTSKILL  QUANTUM COMPUTATION Nama Kelompok :     Aditya Aryanto       (50415172)     Dimas A...